KRAKATOA.ID, PALEMBANG – Kawasan Cagar Budaya Bukit Siguntang di Kota Palembang sejak dahulu memang terkenal sebagai pusat spiritual yang penuh misteri. Sebab, banyak masyarakat percaya bahwa bukit setinggi 27 meter ini menyimpan energi gaib yang sangat besar. Oleh karena itu, para pencari kebijaksanaan spiritual sering mengunjungi tempat sakral ini untuk melakukan laku tirakat atau meditasi mendalam.
Salah satu kisah mistis yang sangat menarik datang dari pengalaman spiritual seorang lelaki tua pada era dua dekade silam. Dalam hal ini, pria berusia 72 tahun tersebut menjalani laku meditasi selama lima malam berturut-turut pada tahun 2003. Hasilnya, ia mengaku menerima sebuah petunjuk gaib yang datang secara misterius dalam keheningan malam.
Kisah turun-temurun tersebut kemudian mengalir dari penuturan seorang saksi sejarah bernama Arya Mahessa. Arya membagikan cerita langka ini saat berjumpa dengan tim Krakatoa.id di Bandarlampung pada Minggu, 14 Juni 2026.
Restu Segitiga Gaib dan Tanda Pusaka Kamboja Sembilan Helai
Selanjutnya, Arya Mahessa menjelaskan bahwa sosok anak laki-laki tersebut akan memperoleh proteksi spiritual yang sangat kuat. Faktanya, ia mendapat restu langsung dari tiga kekuatan gaib utama yang menguasai tanah Sumatra Selatan. Para entitas suci tersebut meliputi penjaga mistis Bukit Siguntang, penguasa aliran Sungai Musi, serta sosok gaib Datuk Camong.
Sebagai bukti legitimasi spiritual, alam gaib akan membekali fisik anak tersebut dengan sebuah tanda lahir atau pusaka khusus. Tanda dari leluhur tersebut memiliki bentuk visual menyerupai sembilan helai bunga kamboja, bunga wijaya kusuma, atau simbol matahari.
- Asal Silsilah: Merupakan keturunan langsung dari garis darah tokoh berpengaruh, Kapitan Palembang.
- Tanda Spiritual: Memiliki tanda khusus pada dirinya berupa visual sembilan helai bunga kamboja atau wijaya kusuma.
- Trinitas Gaib: Memperoleh restu dari penguasa gaib Bukit Siguntang, Sungai Musi, dan Datuk Camong.
Mengurai Benang Kusut Persekutuan Dagang Kuno di Tanah Sriwijaya
Kemudian, tugas utama anak keturunan Kapitan Palembang ini bukanlah untuk mencari harta karun material yang terkubur. Sebaliknya, ia memikul misi besar sebagai pembuka tabir sejarah yang telah lama tersembunyi dari peradaban modern. Menurut penuturan sang lelaki tua, anak tersebut kelak akan menemukan serpihan kisah lama yang terpendam selama berabad-abad.
Jejak sejarah tersebut tersimpan rapat dalam bentuk catatan kuno, simbol rahasia, serta dokumen hubungan kongsi dagang masa lalu. Hubungan perdagangan internasional ini melibatkan berbagai saudagar lokal kerajaan hingga jaringan saudagar lintas negara dari berbagai negeri di kawasan Asia. Para pelaut asing tersebut dahulu pernah singgah dan menjalin persekutuan dagang yang sangat kuat di tanah Sriwijaya.
Akhirnya, Arya Mahessa menutup kisah mistis tersebut dengan sebuah kalimat yang terus melekat kuat dalam ingatan para pendengarnya.
“Apabila waktunya tiba, anak laki-laki dari garis Kapitan itu akan dipanggil oleh jejak-jejak leluhurnya sendiri. Bukan ia yang mencari rahasia itu, melainkan rahasia itulah yang akan menemukan dirinya,” tutup Arya Mahessa.***






