Sebut Kental Manis Mirip Rokok, Dinkes Pringsewu Gandeng Aisyiyah Desak Regulasi Gizi Anak

KRAKATOA.ID, PRINGSEWU — Saat ini, persoalan konsumsi kental manis pada balita di pedesaan Lampung masih menjadi ancaman serius. Pihak otoritas kesehatan menilai kebiasaan salah kaprah tersebut memiliki kemiripan dengan candu rokok. Kondisi memprihatinkan ini terungkap dalam agenda edukasi gizi oleh Makes PP Aisyiyah dan YAICI, Kamis (9/7/2026).

Selanjutnya, masyarakat kelas bawah masih memandang produk kental manis sebagai susu pertumbuhan yang kaya manfaat. Padahal, produk tinggi gula tersebut merupakan krimer kental manis yang tidak cocok untuk tumbuh kembang anak. Dampak buruk konsumsi krimer ini umumnya baru terlihat saat anak beranjak dewasa nanti.

Harga Murah dan Akses Warung Desa Suburkan Kebiasaan Salah

Mengenai hal itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pringsewu Ali Subagiyo menyoroti tantangan berat di lapangan. Ali menyebut faktor harga murah dan kemudahan akses menjadi pemicu utama langgengnya kebiasaan buruk ini. Bahkan, balita yang belum lancar berbicara pun bisa membeli kental manis kemasan saset secara mandiri di warung desa.

“Tantangannya di situ. Kental manis itu dipahami masyarakat sebagai sesuatu yang bermanfaat, sesuatu yang bagus. Padahal ini benar-benar bukan susu, melainkan krimer. Sayangnya, ekspektasi masyarakat saat memberikan itu adalah anak mendapatkan gizi dan proteksi, padahal realitanya tidak demikian,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pringsewu, Ali Subagiyo, S.ST., Ners.

Kemudian, susu formula pertumbuhan yang asli justru memiliki harga yang relatif tinggi bagi kantong rakyat miskin. Kesenjangan harga ini membuat kental manis saset menjadi pilihan utama yang paling terjangkau setiap hari. Ali mengibaratkan perjuangan edukasi gizi ini sebagai ajang adu kesabaran melawan kampanye masif produsen industri raksasa.

“Kita kalau turun ke daerah-daerah, anak itu bisa pergi sendiri ke warung. Asal bawa duit Rp5.000, gak bisa ngomong pun, dia tunjuk, dapat. Kebiasaan ini sudah terbentuk lama karena mereka juga mengampanyekannya sejak sebelum kemerdekaan. Ini adu kesabaran. Mereka kampanye produk, kita juga harus sabar terus mengampanyekan edukasi yang benar,” lanjut Ali.

Dinkes Pringsewu Siap Dorong Regulasi Khusus ke Tingkat Bupati

Tentu saja, Dinas Kesehatan Pringsewu tidak tinggal diam melihat ancaman stunting akibat salah gizi ini. Pihak dinkes berencana membawa isu krusial tersebut ke tingkat kebijakan daerah yang lebih tinggi. Ali membuka peluang besar untuk mendorong lahirnya regulasi khusus guna memayungi perlindungan konsumsi gizi anak.

BACA JUGA :  Serunya Bermain Sambil Belajar Bersama Agus Agus Bersaudara Indonesia dan Indpendent Voulenter

Lalu, pemerintah daerah sangat mengapresiasi kolaborasi aktif dari organisasi masyarakat seperti Aisyiyah dan YAICI. Sinergi lintas elemen ini terbukti mampu mempercepat penyebaran informasi kesehatan yang benar ke ruang publik. Pemerintah optimistis edukasi persuasif dapat memutus rantai persepsi keliru mengenai krimer kental manis di Lampung.

Latih Kader Aisyiyah Kuasai Teknik Menulis Copywriting di Media Sosial

Sementara itu, organisasi perempuan Aisyiyah Lampung menerapkan metode pendekatan yang sangat modern dan humanis. Ketua PW Aisyiyah Lampung Pristi Wahyu Diawati membekali para kadernya dengan kemampuan literasi digital. Para ibu kader belajar teknik menulis copywriting yang menarik untuk menyebarkan konten edukasi gizi di media sosial.

“Dulu banyak yang menganggap susu kental manis itu memang susu untuk pertumbuhan. Sekarang pemahamannya sudah mulai berubah, tetapi edukasi tetap harus dilakukan dengan pendekatan kekeluargaan agar masyarakat tidak merasa disalahkan,” ujar Pristi Wahyu Diawati.

Oleh karena itu, para kader tidak hanya melakukan pemantauan pertumbuhan balita secara langsung ke rumah-rumah warga. Mereka juga memanfaatkan ruang digital untuk memengaruhi perilaku belanja ibu rumah tangga secara positif. Kesimpulannya, kolaborasi kreatif ini menjadi kunci utama penyelamatan masa depan gizi anak-anak di Kabupaten Pringsewu.***