Abu Vulkanik Anak Krakatau, Pemprov Lampung Sebar 20 Ribu Masker ke Sejumlah Daerah

KRAKATOA.ID, BANDAR LAMPUNG — Pemerintah Provinsi Lampung memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat di tengah aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih berstatus Level III atau Siaga.

Salah satu langkah yang dilakukan pemerintah adalah membagikan 20.000 masker ke sejumlah kabupaten dan kota.

Masker tersebut menjadi bagian dari kesiapsiagaan menghadapi potensi paparan abu vulkanik Anak Krakatau.

BPBD Provinsi Lampung menyalurkan masker ke Lampung Selatan, Pesawaran, Tanggamus, Lampung Utara, Pringsewu, Bandar Lampung, dan Pesisir Barat.

Pemerintah juga terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Status Anak Krakatau Masih Siaga

Hingga Rabu (9/9/2026) pukul 12.00 WIB, Gunung Anak Krakatau masih berada pada Status Level III atau Siaga.

Meski demikian, aktivitas vulkanik menunjukkan kecenderungan menurun.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan pemerintah tetap meminta masyarakat waspada.

“Kita tetap tenang, tetapi jangan lengah,” tegas Rahmat saat konferensi pers di Pusdalops BPBD Provinsi Lampung, Rabu (9/9/2026).

Sebelumnya, Rahmat bersama TNI AL, BPBD, Basarnas, dan akademisi Itera memantau Anak Krakatau secara langsung.

Tim menggunakan KRI Lepu 861 untuk melihat kondisi gunung dari perairan Selat Sunda.

Mereka mendekati kawasan Anak Krakatau hingga sekitar tiga kilometer.

Menurut Rahmat, Anak Krakatau masih mengalami erupsi. Namun, frekuensi dan intensitas keluarnya material vulkanik mulai berkurang.

Abu Vulkanik Capai Ketinggian 2,1 Kilometer

Pemantauan juga menunjukkan material vulkanik masih keluar dari kawasan Anak Krakatau.

Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 pada pukul 10.00 WIB, material vulkanik mencapai ketinggian sekitar 2,1 kilometer.

Angin membawa material tersebut ke arah barat laut. Sebagian material juga bergerak menuju laut di sekitar Teluk Lampung.

Kondisi tersebut membuat pemerintah terus memantau potensi paparan abu vulkanik.

BACA JUGA :  Panas, Penyakit, Polusi Udara: Bagaimana Perubahan Iklim Berdampak pada Kesehatan

Masyarakat pun diminta mengikuti informasi resmi terkait arah sebaran abu.

Dinkes Siapkan Layanan Kesehatan

Selain membagikan masker, Pemprov Lampung memperkuat kesiapan sektor kesehatan.

Dinas Kesehatan Provinsi Lampung memantau kondisi kesehatan masyarakat di seluruh kabupaten dan kota.

Fasilitas pelayanan kesehatan juga menyiapkan langkah untuk menghadapi potensi gangguan kesehatan akibat abu vulkanik.

Petugas mengantisipasi sejumlah penyakit dan gangguan kesehatan.

Beberapa di antaranya adalah ISPA, influenza, pneumonia, iritasi mata, penyakit kulit, asma, dan gangguan paru.

Pemerintah juga memantau ketersediaan obat dan bahan medis habis pakai.

Hingga saat ini, persediaan di tingkat provinsi masih memadai.

Pemprov Ajukan 500 Ribu Masker

Kesiapsiagaan pemerintah tidak berhenti pada distribusi 20.000 masker.

Pemprov Lampung juga mengajukan dukungan logistik kepada BNPB.

Jumlahnya mencapai 500.000 masker dan 500.000 hand sanitizer.

Pemerintah juga mengajukan 1.000 paket peralatan kebersihan.

Selain itu, Pemprov meminta 300 unit peralatan pemadam kebakaran dan 200 unit oksigen.

Pemerintah juga mengajukan 10 unit tenda pengungsian.

Langkah tersebut menunjukkan pemerintah menyiapkan kebutuhan sejak dini.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Lampung Aswarodi mengatakan pemerintah tidak ingin menunggu kondisi memburuk.

“Kami menyiapkan skenario dan memastikan pemerintah daerah siap apabila sewaktu-waktu terdapat perubahan rekomendasi dari PVMBG,” kata Aswarodi.

Operasi Modifikasi Cuaca Ikut Berjalan

Pemprov Lampung juga menjalankan operasi modifikasi cuaca bersama BNPB.

Operasi tersebut berlangsung selama dua hari.

Tim menjalankan operasi pada Selasa (8/9) dan kembali pada Rabu (9/9/2026).

Aswarodi menjelaskan, operasi itu bukan hanya untuk menurunkan hujan.

Pemerintah juga berupaya membantu mengurangi konsentrasi partikel abu vulkanik di udara.

Tim menyesuaikan penerbangan dengan hasil pemantauan sebaran abu.

Aspek keselamatan penerbangan juga menjadi perhatian utama.

BACA JUGA :  Pemprov Lampung Percepat Perbaikan Jalan Strategis untuk Dukung Pertanian Rawa Pitu

Warga Diminta Pakai Masker

Pemprov Lampung mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.

Terutama ketika wilayah tempat tinggal mengalami paparan abu vulkanik.

Masyarakat juga dapat menggunakan pelindung mata untuk mengurangi risiko iritasi.

Jika mengalami gangguan kesehatan, warga diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan.

Pemerintah juga meminta masyarakat tidak mendekati kawasan Anak Krakatau.

Larangan tersebut berlaku untuk wisatawan maupun pengguna laut.

Pemprov menetapkan jarak aman minimal tiga kilometer dari kawah aktif.

Jangan Mendekati Anak Krakatau Demi Konten

Pemprov Lampung mengingatkan masyarakat agar tidak mengambil risiko demi mendapatkan foto atau video Gunung Anak Krakatau.

Aktivitas vulkanik dapat berubah sewaktu-waktu.

Karena itu, masyarakat harus mengutamakan keselamatan.

Kepala BPBD Lampung juga meminta warga mendapatkan informasi dari sumber resmi.

Masyarakat dapat mengikuti informasi pemerintah, BPBD, BMKG, PVMBG, dan instansi terkait.

“Prinsipnya, masyarakat tetap tenang, tetapi pemerintah harus selalu siap,” tegas Aswarodi.

Saat ini, pemerintah belum meminta masyarakat melakukan evakuasi.

Namun, pemerintah terus menyiapkan berbagai skenario jika aktivitas Gunung Anak Krakatau berubah.

Dengan distribusi masker, kesiapan fasilitas kesehatan, pemantauan sebaran abu, dan penguatan logistik, Pemprov Lampung terus memperkuat mitigasi.

Aktivitas Anak Krakatau memang menurun. Namun, status Siaga masih berlaku.

Karena itu, masyarakat Lampung diminta tetap tenang dan waspada.

Gunakan masker, hindari kawasan berbahaya, dan ikuti informasi resmi pemerintah.***