Liturgi Tahbisan Uskup Keuskupan Tanjungkarang Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo Dengan Nuansa Lampung

KRAKATOA.ID, BANDARLAMPUNG — Salah satu pendukung pokok dalam ekaristi adalah lagu-lagu yang dipandu oleh kelompok paduan suara, dipimpin oleh seorang dirigen. Lagu yang mereka lantunkan akan membawa suasana dalam ekaristi, mempengaruhi penghayatan dalam doa, dan menjadi warna yang cukup dominan. Karena itulah, dalam upacara penahbisan uskup, Senin 1 Mei 2023 ini, kelompok yang sudah bersiap sejak lama adalah kelompok paduan suara.

Untuk peristiwa besar yang istimewa ini, lagu-lagu yang akan digunakan adalah lagu-lagu dengan nuansa Lampung, khususnya untuk bagian ordinarium. Lagu lain diambil dari Buku Puji Syukur yang sudah familier bagi umat sehingga umat bisa ikut terlibat dalam nyanyian. Lagu lain juga pastilah lagu yang menjadi motto dari Mgr. Vincensius Setiawan Triatmojo, yang diciptakan sendiri oleh uskup yang juga seniman ini.

Lagu berjudul In Verbo Tuo adalah ciptaan Mgr. Avin dipersiapkan juga untuk mewarnai perayaan tahbisan. Lagu ini adalah lagu berbentuk dialog antara Yesus dan Petrus, diambil dari Lukas 5:5.

RD. Frits Dwi Sapta Adi, salah satu imam projo Keuskupan Tanjungkarang yang juga pencipta beberapa lagu liturgi nuansa Lampung menyatakan kalau setiap lagu mempunyai warna yang mesti diterjemahkan oleh setiap orang yang menyanyikannya.

“Misalnya lagu Tuhan kasihanilah kami, itu adalah lagu mohon belaskasihan. Lagu Kemuliaan mesti dibawakan dengan megah, menunjukkan kemuliaan, lalu lagu Kudus adalah lagu yang penuh sukacita,” ujar Rm. Fritz.

Karena itulah, persiapan paduan suara untuk tahbisan uskup kali ini pun dilakukan dengan serius. Jika awalnya hanya latihan seminggu sekali, kemudian dilakukan intensif dua kali seminggu. Paduan suara melibatkan umat Paroki Telukbetung, dan juga gabungan perwakilan dari umat lain paroki yang ada di Bandarlampung.

BACA JUGA :  Pakar Lingkungan Hidup Prof Emil Salim: NTT Memikul Tanggung Jawab Berat

“Ini adalah uskup kita, keuskupan kita. Maka saya mengajak seluruh umat untuk mendukung acara ini dengan doa-doa. Memang ada pembatasan yang hadir, tapi walau mengunakan chanel youtube, mari tetap ikuti dengan gembira. Ikut berdoa, bukan menonton. Semua harus memaklumi situasi sekarang ini, jangan dihambat oleh kekecewaan,” ajak Rm. Fritz.

Wakil ketua I bidang liturgi, RD. Petrus Tripomo menunjukkan salah satu pernak-pernik istimewa dalam penahbisan uskup adalah prosesi cium cincin uskup oleh para pastor projo yang ada di Keuskupan Tanjungkarang. Prosesi ini dilakukan usai doa setelah komuni.

“Ini dilakukan sebagai tanda kesetiaan bahwa uskuplah yang punya kuasa dalam iman bagi para pastor. Beliau yang menentukan kebijakan-kebijakan untuk ditaati. Tentu saja bukan otoriter karena ada dialog di dalamnya,” jelas Rm. Tripomo.

Persiapan untuk liturgi dalam tahbisan uskup Tanjungkarang ini dilakukan dalam beberapa bidang. Selain paduan suara seperti yang dijelaskan di atas, juga persiapan buku panduan liturgi, persiapan misdinar dengan latihan-latihan, perlengkapan, dekorasi, hingga kasula yang akan dikenakan oleh para uskup yang hadir.*** (DYN)

Komentar