KRAKATOA.ID, PESAWARAN – Sampah plastik mulai menjadi perhatian serius di kawasan wisata Pantai Mutun dan perairan menuju Pulau Tangkil. Kondisi itu mendorong Komunitas Perenang Antar Pulau Lampung (KPAPL) turun langsung membersihkan sampah di kawasan tersebut.
Ketua KPAPL Ir. Napoli Situmorang, M.T., M.H., mengatakan komunitasnya melakukan aksi bersih-bersih pada Sabtu pagi, 8 Agustus 2026.
Para anggota komunitas membersihkan sampah di kawasan Pantai Mutun. Setelah itu, mereka bergerak ke perairan antara Pantai Mutun dan Pulau Tangkil.
Napoli mengatakan anggota komunitas menemukan banyak sampah di kawasan tersebut. Sampah plastik menjadi salah satu jenis sampah yang paling banyak terlihat.
“Aktivitas komunitas perenang antar pulau pagi ini kita membersihkan sampah yang ada di Pantai Mutun. Kemudian di perairan antara Pantai Mutun dan Pulau Tangkil, sekarang kita lihat banyak sampah, terutama sampah-sampah plastik,” jelas Napoli saat diwawancarai Krakatoa.id, Sabtu (8/8/2026).
Perenang Risih Melihat Laut Kotor
Napoli mengatakan para anggota KPAPL memiliki alasan kuat untuk membersihkan kawasan tersebut. Mereka rutin berenang di sekitar perairan Pantai Mutun dan Pulau Tangkil.
Karena itu, kondisi laut yang penuh sampah membuat mereka merasa tidak nyaman. Mereka kemudian memilih turun langsung untuk membersihkan kawasan tersebut.
“Kita terpanggil di situ karena kita yang aktif berenang di situ agak risih juga melihat kalau pantai kita jelek,” ujar Napoli.
Menurut Napoli, kondisi pantai juga berkaitan dengan wajah pariwisata Lampung. Pantai Mutun menjadi salah satu kawasan yang dikunjungi wisatawan.
Selain itu, wisatawan dari luar daerah berpotensi datang saat akhir pekan. Mereka tentu ingin menikmati kawasan pantai dengan kondisi yang bersih.

Sampah Bisa Pengaruhi Citra Wisata Lampung
Napoli khawatir sampah yang menumpuk dapat memengaruhi kesan wisatawan terhadap Lampung. Terlebih, wisatawan bisa melihat langsung kondisi pantai saat berkunjung.
“Kalau tamu-tamu kita datang dari luar daerah ingin berwisata di sini kemudian melihat pantai kita kotor, nanti langsung jelek penilaiannya,” katanya.
Menurut dia, kondisi tersebut juga dapat mengurangi minat wisatawan untuk kembali datang. Karena itu, masyarakat perlu bersama-sama menjaga kebersihan kawasan wisata.
Napoli menilai kebersihan pantai bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat dan komunitas juga dapat mengambil peran melalui aksi nyata.
KPAPL Rutin Jaga Kebersihan Laut
Napoli menjelaskan aksi bersih-bersih tersebut bukan kegiatan sekali saja. KPAPL rutin melakukan kegiatan untuk menjaga kebersihan laut.
Komunitas itu berusaha menjaga laut agar tetap bersih. Mereka juga ingin mengurangi keberadaan sampah yang dapat mengganggu pengguna laut.
Selain mengganggu manusia, sampah juga dapat berdampak terhadap biota laut. Karena itu, Napoli mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan laut.
“Ini niat kecil mungkin kami adalah sebagian dari masyarakat yang peduli akan kecintaan terhadap laut,” ungkapnya.
Napoli menegaskan KPAPL akan terus menjaga kepedulian terhadap lingkungan laut. Ia berharap aksi tersebut dapat menggerakkan lebih banyak masyarakat.
“Kami berusaha untuk menjaga laut supaya tetap bersih, menjaga laut supaya tetap terhindar dari sampah-sampah,” katanya.
Ajak Masyarakat Peduli Laut
Bagi KPAPL, menjaga kebersihan laut menjadi bagian dari kecintaan terhadap lingkungan. Mereka ingin masyarakat ikut menjaga kawasan pesisir dari sampah.
Napoli berharap kegiatan tersebut dapat memberikan dampak positif. Ia juga ingin aksi komunitas perenang itu menginspirasi masyarakat Lampung.
“Selain mengganggu kesehatan masyarakat atau pengguna laut, juga mengganggu biota laut,” ujarnya.
Karena itu, KPAPL mengajak masyarakat tidak membuang sampah sembarangan. Masyarakat juga dapat ikut menjaga kebersihan pantai saat berwisata.
Napoli menutup pesannya dengan semangat pelestarian lingkungan.
“Salam lestari, semoga kegiatan kami ini bisa menginspirasi,” pungkasnya.***






