Gubernur Lampung Siapkan Dryer 20 Ton untuk Petani, Dorong Jagung Tak Lagi Dijual Mentah

KRAKATOA.ID, LAMPUNG SELATAN — Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mendorong petani meningkatkan nilai jual hasil panen melalui penguatan teknologi pascapanen dan hilirisasi pertanian. Salah satu langkahnya ialah menyediakan mesin pengering (dryer) berkapasitas 20 ton untuk membantu petani jagung di Lampung Selatan.

Rahmat menyampaikan rencana tersebut saat melantik Pengurus Anak Cabang (PAC) dan Pengurus Ranting Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) se-Kabupaten Lampung Selatan di Desa Gandri, Kecamatan Penengahan, Selasa (1/9/2026).

Sebagai Ketua HKTI Provinsi Lampung, Rahmat meminta organisasi petani tersebut ikut mengawal pengelolaan hasil panen dari tingkat kecamatan. Ia ingin petani tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga mampu mengolah hasil pertanian sebelum menjualnya ke pasar.

Gubernur Lampung Dorong Petani Kuasai Pascapanen

Rahmat menilai petani perlu memperkuat sektor pascapanen agar harga jual komoditas tetap menguntungkan. Menurutnya, petani dapat meningkatkan kualitas jagung melalui proses pengeringan yang tepat.

Karena itu, ia meminta HKTI mengelola fasilitas dryer di setiap kecamatan. Dengan fasilitas tersebut, petani dapat mengeringkan jagung secara lebih cepat dan menjaga kualitas hasil panen.

“Tadi saya sudah bilang, itu HKTI-HKTI harus tanggung jawab. Keringin semua jagung-jagung yang ada di kecamatannya masing-masing. Saya bantu dryer. Dryer 20 ton,” ungkap Rahmat.

Menurutnya, teknologi pascapanen menjadi bagian penting dari strategi hilirisasi pertanian. Petani tidak cukup hanya menghasilkan komoditas dalam jumlah besar. Mereka juga perlu meningkatkan kualitas dan nilai tambah hasil produksi.

Harga Jagung Rp6.500-Rp6.900 per Kilogram

Rahmat menyoroti pentingnya menjaga harga komoditas pertanian, terutama jagung. Ia menyebut harga jagung saat ini berada pada kisaran Rp6.500 hingga Rp6.900 per kilogram.

Menurut Rahmat, perubahan harga jagung dapat berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat Lampung. Ia memperkirakan hampir satu juta orang bergantung pada komoditas jagung.

BACA JUGA :  Gubernur Lampung Ajak Purnabakti Jadi “Guru Bangsa” untuk Birokrasi Modern

“Hampir 1 juta orang tergantung dari harga jagung. Harga jagung hancur, 1 juta orang sedih. Harga jagung bagus, 1 juta orang merasa senang,” ujar Rahmat.

Karena itu, pemerintah tidak hanya perlu menjaga harga. Pemerintah juga perlu membantu petani meningkatkan kualitas dan nilai tambah hasil panen.

Dengan dukungan dryer, petani dapat mengelola proses pengeringan lebih baik. Selanjutnya, hasil panen yang memenuhi standar kualitas dapat memberikan peluang pemasaran yang lebih luas.

Hilirisasi Pertanian Jadi Strategi Baru Lampung

Rahmat menegaskan bahwa pemerintah ingin mendorong hilirisasi berbagai komoditas pertanian. Ia tidak ingin petani terus menjual hasil panen dalam bentuk bahan mentah.

“Itu tugas HKTI. Membantu Pak Presiden. Harga sudah bagus, kita buat hilirisasi, kita buat nilai tambah,” katanya.

Selain jagung, pemerintah juga ingin mengembangkan hilirisasi komoditas lain. Rahmat menyebut padi, kelapa, dan berbagai tanaman pertanian dapat masuk dalam strategi tersebut.

Hilirisasi dapat membuka peluang pengolahan hasil pertanian di tingkat desa. Dengan begitu, petani dan kelompok tani memiliki kesempatan memperoleh nilai tambah sebelum produk masuk ke pasar yang lebih luas.

Petani Lampung Selatan Dapat Dukungan Pupuk Organik Cair

Selain memperkuat sektor pascapanen, Pemprov Lampung juga mendorong peningkatan produktivitas dari sisi hulu. Salah satunya melalui program Pupuk Organik Cair (POC) gratis.

Rahmat mengatakan seluruh petani di Lampung Selatan, terutama petani di Kecamatan Penengahan, akan mendapat bantuan POC dari Pemerintah Provinsi Lampung pada tahun depan.

“Sebagai Gubernur Lampung tugas saya, kebetulan Ketua HKTI juga, membantu bagaimana produksinya naik. Maka saya buat program pupuk organik cair,” tuturnya.

Ia menargetkan program tersebut dapat membantu petani meningkatkan produktivitas lahan hingga lebih dari 10 ton per hektare.

BACA JUGA :  FKIP Unila Gelar Promosi Doktor, Suparman Arif Kembangkan Model Pembelajaran Trans-His

Dengan demikian, Pemprov Lampung menjalankan strategi dari dua sisi. Di sektor hulu, pemerintah membantu meningkatkan produktivitas dan kesuburan lahan. Sementara itu, di sektor hilir, pemerintah mendorong penggunaan teknologi pascapanen dan pengolahan hasil pertanian.

HKTI Diminta Jadi Penggerak Petani

Ketua HKTI Lampung Selatan Wahrul Fauzi Silalahi menegaskan bahwa seluruh struktur HKTI harus bergerak langsung mendampingi petani.

“Ke depan harus benar-benar berbuat, ke depan harus benar-benar bermanfaat,” ujar Wahrul.

Menurutnya, pengurus HKTI di tingkat PAC, desa, hingga dusun harus menjadi motor pemberdayaan petani.

“Pengurus ranting, pengurus desa HKTI, pengurus dusun HKTI harus benar-benar orang yang bisa bermanfaat, orang yang betul-betul berjuang memberdayakan pertaniannya,” katanya.

Wahrul juga menyampaikan rencana dukungan alat pertanian bagi kelompok tani Lampung Selatan. Menurutnya, Gubernur Lampung akan membantu menyediakan dryer bagi PAC HKTI pada tahun depan.

Selain itu, Kementerian terkait juga akan memberikan bantuan alat dan mesin pertanian atau alsintan.

Gubernur Tinjau Dryer dan Rumah Produksi Pupuk

Setelah melantik pengurus HKTI Lampung Selatan, Rahmat bersama rombongan mengunjungi Desa Marga Jasa, Kecamatan Sragi.

Di lokasi tersebut, Gubernur meninjau operasional mesin dryer berkapasitas besar dan rumah produksi pupuk cair hayati yang dikelola kelompok tani setempat.

Kunjungan tersebut memperlihatkan model integrasi pertanian dari hulu hingga hilir. Petani tidak hanya mengelola lahan dan meningkatkan produksi, tetapi juga mengembangkan teknologi pascapanen serta memproduksi sarana pertanian secara mandiri.

Melalui strategi tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung berharap petani dapat meningkatkan produktivitas sekaligus memperoleh nilai tambah dari hasil pertanian.

Pada akhirnya, program dryer, bantuan POC, alsintan, benih, dan hilirisasi komoditas menjadi bagian dari upaya Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal memperkuat kemandirian petani.

BACA JUGA :  Lampung Genjot Konektivitas Wisata Pesisir

Jika seluruh program berjalan sesuai rencana, petani Lampung Selatan tidak hanya menghasilkan jagung dan komoditas pangan dalam jumlah besar. Mereka juga memiliki kemampuan lebih kuat untuk mengelola hasil panen, meningkatkan kualitas produk, dan mendapatkan nilai ekonomi yang lebih tinggi.***