Wisata Ramah Lingkungan, Mungkinkah?

KRAKATO.ID (VOA) — Bencana lingkungan terjadi di mana-mana, dan sudah menjadi pengetahuan umum, ulah manusia adalah penyebab utamanya. Namun, sejauh mana para pelancong peduli pada lingkungan saat pergi berlibur? Jawabnya, ternyata beragam.

Lucia Principe, seorang turis dari Tuscany yang tiba di stasiun kereta Roma mengatakan liburan adalah kesempatan untuk bersantai. Meskipun ia selalu memilih pendekatan ramah lingkungan di daerah tempat tinggalnya, kenyamanan menjadi pertimbangan yang utama saat bepergian.

“Di rumah saya banyak memikirkan lingkungan, sampah yang tidak bisa dipilah-pilah, daur ulang, semuanya. Saat saya bepergian, saya lebih menyukai kenyamanan dan sejujurnya saya tidak terlalu memikirkannya,” tukasnya.

Di kota yang sama, turis asal Spanyol, Vanessa Canuela, mengamati bangunan peninggalan sejarah Koloseum. Ia senang berwisata, tetapi merasa prihatin bila melihat turis yang membuang sampah sembarangan.

“Saya kira kegiatan wisata yang mencemari lingkungan menjadi keprihatinan saya,” ujar dia.

Di Bangkok, Thailand, saat berjalan-jalan di sekitar Grand Palace di ibu kota, Julia Parralucena, terpana dengan sampah plastik yang berserakan. Turis asal Spanyol ini berusaha memperbaiki situasi tersebut.

“Saya prihatin dengan sampah plastik yang berserakan di jalanan. Kita harus menjaga Bumi ini. Sebisa mungkin, saya berusaha mengumpulkannya atau memindahkannya ke tempat yang tepat,” kata Parralucena.

Turis asal Jerman, Jan Sommer, mengatakan bahwa ia dan rekan seperjalanannya memutuskan untuk tidak melakukan penerbangan apapun di Thailand, dan memilih menggunakan kereta sebagai bentuk kepedulian pada lingkungan.

“Pada dasarnya selama kami tinggal di Thailand, kami tidak berencana melakukan penerbangan apa pun, melainkan bepergian dengan kereta dan bus. Jadi inilah cara kami berkontribusi terhadap iklim yang lebih baik,” ujar Sommer.

BACA JUGA :  PBB: Jumlah Pengungsi Catat Rekor 110 Juta Orang

Industri penerbangan menghasilkan dua persen hingga tiga persen emisi karbon di seluruh dunia, tetapi porsinya diperkirakan akan meningkat seiring dengan meningkatnya frekuensi perjalanan.

Dalam beberapa tahun belakangan, industri ini terpukul dengan maraknya “flight shaming,” sebuah gerakan yang mendorong masyarakat untuk mencari moda transportasi yang tidak terlalu berpolusi – atau mengurangi perjalanan sama sekali.

Masalah ini menjadi semakin mendesak tahun ini ketika para perunding Uni Eropa menyetujui peraturan baru yang mewajibkan maskapai penerbangan untuk menggunakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan mulai 2025 dan meningkatkannya lebih tajam pada tahun-tahun berikutnya. [ab/uh]