KRAKATOA.ID, BANDAR LAMPUNG — Bagi sebagian orang, mendaki gunung adalah tentang menaklukkan puncak tertinggi atau menguji batas fisik. Namun, bagi Amiek Diyah Ambarwati, Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung, setiap langkah di jalur pendakian menjadi sarana penting untuk melatih spiritualitas dan meredam ego.
Di antara deretan gunung yang pernah ia jejaki, Gunung Andong menyimpan memori yang paling berkesan.
Meski hanya memiliki ketinggian 1.789 meter di atas permukaan laut (mdpl), gunung di Jawa Tengah ini menawarkan magis tersendiri bagi perempuan berusia 57 tahun tersebut. Menurut Amiek, Andong menyuguhkan perpaduan sempurna antara keindahan alam yang luar biasa dan jalur yang ramah bagi pendaki pemula.
Kado Perpisahan Berdua Suami di Jalur Pendakian
Momen pendakian itu berlangsung pada Oktober 2025, tepat satu minggu sebelum Amiek resmi memimpin Lapas Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung. Karena menyimpan rasa penasaran yang besar terhadap gunung tersebut, ia mengajak sang suami untuk berangkat ke sana pada hari Sabtu pagi setelah subuh.
“Waktu itu saya masih berdinas di Jogja. Habis subuh, saya langsung berangkat ke sana berdua saja dengan suami,” kenang Amiek saat berbagi cerita kepada Krakatoa.id di ruang kerjanya, Jumat (29/05/2026).
Bagi seorang wanita yang bersiap memasuki usia 58 tahun, jalur Andong terbukti sangat bersahabat. Dari tiga pilihan pintu pendakian yang ada—seperti Sawit dan Pendem—Amiek memilih jalur Basecamp Pendem karena jalurnya yang sangat landai.
“Jalurnya sangat landai. Kami bahkan tidak usah memakai sepatu olahraga, cukup pakai sandal saja sudah bisa. Gunung ini sangat mantap untuk pemula atau teman-teman yang tidak biasa melakukan trekking,” selorohnya sambil tersenyum.
Tanpa ambisi berlebih, Amiek dan suaminya mendaki dengan santai. Mereka menikmati setiap jengkal perjalanan tanpa perlu terburu-buru mengejar waktu.
“Kami ini termasuk kelompok pendaki ‘bento’ alias lelet yang sedikit-sedikit istirahat dan foto-foto. Kami tidak mengejar target waktu, fokus kami hanya sampai ke atas dan menaklukkan puncaknya,” tambahnya.

Menatap 7 Gunung: Keindahan Magis 360 Derajat
Rasa lelah sepanjang jalur tanah langsung menguap begitu kaki mereka memijak area puncak. Gunung Andong menyuguhkan lanskap spektakuler yang jarang ada di gunung-gunung lain.
Saat langit bersih tanpa halangan kabut atau “tembok” putih, puncak Andong menyajikan pemandangan penuh 360 derajat yang luar biasa indah. Dari satu titik berdiri, mata para pendaki dapat menikmati kemegahan deretan gunung berapi di Pulau Jawa sekaligus.
“Kita bisa melihat 360 derajat dari puncak. Sisi kiri dan depan menampilkan Gunung Merapi dan Merbabu. Begitu geser sedikit dan balik kanan, kita bisa melihat Gunung Sindoro, Sumbing, hingga Gunung Slamet. Agak kejauhan lagi, kita bahkan bisa melihat Gunung Lawu. Indah banget!” ungkap Amiek dengan mata berbinar.
Bagi Amiek, pemandangan tersebut bukan sekadar panorama alam biasa, melainkan sebuah penyejuk hati yang sangat menghibur di usianya yang sudah kepala lima.
Filosofi Gunung: Sebagus-bagusnya Jabatan, Pasti Akan Turun
Di balik pesona tujuh gunung tersebut, Amiek menemukan ruang kontemplasi yang mendalam tentang kehidupan dan tanggung jawab pekerjaan. Bagi Amiek, mendaki gunung memberikan pelajaran berharga untuk mengalahkan keegoisan diri.
Sebagai seorang pejabat publik yang memimpin sebuah institusi pemasyarakatan, pelajaran paling bermakna justru hadir saat ia melangkah turun kembali menuju basecamp.
“Mengapa saya suka naik gunung? Karena aktivitas ini mengajarkan kita untuk mengalahkan ego. Setelah sampai di atas, setinggi apa pun posisi kita, kita tetap harus turun. Sebagus-bagusnya gunung, pada akhirnya kita harus pulang ke rumah,” tutur Kalapas perempuan ini dengan nada filosofis.
Prinsip itulah yang selalu ia pegang dalam mengemban amanah jabatannya saat ini. Bagi Amiek, kekuasaan dan posisi struktural di dunia kerja memiliki sifat sementara, sama seperti puncak gunung.
“Artinya, sebagus-bagusnya tempat kedudukan kamu saat ini, kamu pasti akan turun. Pilihannya tinggal dua: kamu diturunkan orang lain atau kamu turun sendiri dengan kesadaran penuh. Jabatan mengajarkan saya bahwa tidak ada hal yang perlu kita pamerkan. Di atas gunung masih ada gunung yang lebih tinggi, dan di atas puncak ini kita terlihat sangat kecil serta tidak ada apa-apanya sama sekali,” pungkasnya merendah.
Puncak Andong telah mengajarkan arti kerendahan hati yang mendalam bagi Amiek. Kini, ia menerapkan nilai-nilai tersebut sepenuhnya untuk memimpin, membina warga binaan, dan mengabdi di Lapas Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung.***






