Kakao Bangkit, Petani Lampung Timur Didorong Kembali Garap Komoditas Unggulan

KRAKATOA.ID, LAMPUNG TIMUR – Potensi komoditas kakao di Kabupaten Lampung Timur dinilai sangat besar dan menjanjikan, bahkan mampu menjadi penopang ekonomi berlapis bagi petani jika dikelola secara optimal dan berkelanjutan.

Ketua Asosiasi Petani Kakao Indonesia (APiK) Lampung Timur, Japung Lasarus, mengatakan kakao bukan sekadar komoditas perkebunan, melainkan sistem pertanian yang mampu menghidupi petani dari berbagai sisi.

Menurutnya, salah satu keunggulan kakao adalah dapat dikembangkan dengan sistem tumpang sari. Dalam satu hamparan lahan, petani dapat memanen hasil dari lapisan bawah, tengah, hingga atas tanaman.

“Kalau bahasa kami, menanam kakao itu satu hektare terasa seperti tiga hektare. Di bawah pohon kakao bisa ditanam talas atau umbi-umbian, di bagian tengah kakao itu sendiri, dan di bagian atas bisa kelapa atau alpukat. Jadi panennya berlapis,” ujar Japung saat dimintai keterangan, Selasa (3/2/2026).

Ia mengungkapkan, kakao Lampung Timur sempat mengalami kemunduran pada periode 2010–2012 akibat serangan hama busuk buah. Kondisi tersebut membuat banyak petani menebang tanaman kakao dan beralih ke komoditas lain.

Namun, sejak 2025 kakao di Lampung Timur mulai bangkit kembali. Kebangkitan ini, kata Japung, tidak terlepas dari hadirnya sejumlah offtaker serta pendampingan intensif dari Pemerintah Kabupaten Lampung Timur di bawah kepemimpinan Bupati Ela Siti Nuryamah.

“Kehadiran offtaker seperti PT Papandayan dan Olam membawa klon kakao baru yang lebih tahan hama, sekaligus melakukan pendampingan kepada petani bersama Pemkab Lampung Timur,” jelasnya.

Selain dukungan offtaker, geliat kakao Lampung Timur juga diperkuat melalui kolaborasi dengan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (NGO) yang aktif mendampingi petani, mulai dari budidaya hingga pascapanen.

Meski demikian, Japung mengakui masih terdapat tantangan besar, terutama terkait keamanan kebun. Kondisi tersebut membuat petani kerap memanen kakao sebelum buah matang sempurna.

BACA JUGA :  Yunani Sahkan Pernikahan Sipil Sesama Jenis

“Masalah utama kita itu keamanan. Petani sering tidak berani petik tua karena takut didahului orang. Akhirnya kakao dijual basah, kualitasnya rendah, dan harganya murah,” ungkapnya.

Saat ini, harga kakao basah di tingkat petani Lampung Timur masih berkisar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram. Padahal, menurut Japung, nilai jual kakao dapat meningkat signifikan apabila dipanen matang dan melalui proses fermentasi yang baik.

“Kalau keamanannya terjamin, petani bisa panen matang, difermentasi, dan itu bisa jadi kakao premium. Harganya tentu jauh lebih bagus,” ujarnya.

Untuk mendorong peningkatan kualitas, APiK bersama Pemkab Lampung Timur tengah merintis kerja sama dengan mitra dari Bandung guna mengembangkan kakao premium. Program tersebut meliputi pendampingan teknis, penyediaan alat fermentasi, serta penggunaan solar dryer untuk proses pengeringan.

“Saat ini kami fokus di hulu dan pascapanen dulu. Kalau ini sudah berjalan, target jangka menengah kami adalah bisa memproduksi cokelat sendiri dari Lampung Timur,” kata Japung.

Ia menambahkan, penguatan kelembagaan petani menjadi kunci keberhasilan pengembangan kakao ke depan. Dengan berkelompok, petani dinilai lebih mudah berkembang, saling belajar, dan menjaga keamanan kebun secara kolektif.

“Kalau petani berkelompok, semuanya bisa jalan. Dari belajar budidaya, sambung sisip, sampai ronda kebun. Ini yang terus kami dorong agar kakao Lampung Timur benar-benar bangkit dan menyejahterakan petani,” pungkasnya.***