KRAKATOA.ID, BANDARLAMPUNG -– Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, menerima jajaran pengurus Lab for Democracy Studies (LDS) Lampung di ruang kerjanya, Senin (6/10). Pertemuan ini menjadi ruang dialog strategis untuk memperkuat sinergi antara pemerintah provinsi dan lembaga masyarakat sipil dalam mendorong partisipasi aktif anak muda dalam politik dan demokrasi.
Dalam kesempatan itu, Wagub Jihan menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam pembangunan dan dinamika demokrasi saat ini. Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan data demografi, mayoritas penduduk Lampung berada pada usia produktif—baik dari sisi angkatan kerja maupun pemilih.
“Lampung sedang berada di puncak bonus demografi, di mana anak-anak muda menjadi kelompok dominan, baik dalam pemilu maupun dalam angkatan kerja. Artinya, anak muda bukan lagi kelompok pasif, tetapi sudah menjadi motor penggerak demokrasi,” ujarnya.
Jihan menambahkan bahwa keterlibatan generasi muda dalam politik tidak boleh bersifat seremonial atau sekadar ikut-ikutan. Menurutnya, partisipasi yang bermakna harus membawa dampak konkret terhadap kualitas demokrasi.
“Hari ini anak-anak muda sudah banyak yang aktif menyampaikan aspirasi, ikut aksi, ikut menyuarakan gagasan. Itu adalah cerminan bahwa mereka tidak lagi apatis. Tantangannya adalah bagaimana memastikan semua energi positif itu tidak ditunggangi kepentingan kelompok tertentu. Karena itu pemerintah perlu hadir untuk mendampingi,” jelasnya.
Wagub Jihan juga menyampaikan dukungan penuh terhadap inisiatif LDS, khususnya program-program yang berorientasi pada pendidikan politik bagi anak muda. Ia meyakini bahwa kolaborasi antara pemerintah dan lembaga masyarakat sipil menjadi kunci dalam membangun generasi muda yang sadar politik dan memiliki daya kritis.
“Kami di pemerintah siap men-support program yang berpijak pada kebaikan dan masa depan demokrasi kita,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur LDS Lampung, Dedy Indra Prayoga, memaparkan sejumlah program strategis yang tengah dirancang lembaganya. Salah satunya adalah Kelas Epistemologi Politik, yang merujuk pada pemikiran para filsuf sejak era Yunani Klasik hingga tokoh-tokoh pemikir modern.
Menurut Dedy, pendidikan politik yang berbasis pemikiran filosofis penting untuk membentuk masyarakat yang cerdas dan kritis.
“Kami meyakini ruang demokrasi hanya bisa tumbuh sehat bila masyarakatnya cerdas. Karena itu kami sedang menyusun kurikulum kelas ini agar bisa menjadi rujukan pendidikan politik, khususnya bagi generasi muda,” ujarnya.
LDS juga rutin mengadakan diskusi internal dua kali dalam sepekan, serta sedang menyiapkan program Bootcamp Demokrasi bagi generasi Z. Program dua hari satu malam ini dirancang dalam format yang santai namun tetap berbobot, untuk menjangkau anak-anak muda yang ingin memperdalam pemahaman tentang demokrasi.
“Data terakhir menunjukkan generasi Z dan milenial mendominasi partisipasi pemilu 2024. Karena itu format kegiatan kami rancang sesuai dengan karakter anak muda, supaya mereka nyaman namun tetap substansial,” jelasnya.
Dedy berharap, ke depan akan ada kolaborasi nyata antara LDS dan Pemerintah Provinsi Lampung, termasuk keterlibatan langsung dalam berbagai kegiatan seperti diskusi atau pelatihan bersama peserta.
“Harapan kami, program ini tidak hanya berdampak bagi internal LDS, tetapi juga menjangkau anak-anak muda di seluruh daerah,” pungkasnya.***






