KRAKATOA.ID, BANDAR LAMPUNG – Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Bandar Lampung, Amiek Diyah Ambarwati, membagikan sebuah cerita unik. Secara khusus, ia mengisahkan pengalamannya saat menaklukkan jalur pendakian gunung di Provinsi Lampung. Meskipun memiliki ketinggian yang relatif rendah, jalur pendakian di daerah ini terbukti sangat menantang dan ekstrem.
Dalam sebuah wawancara, Amiek menceritakan bahwa dirinya sudah pernah mendaki dua puncak terkenal di Kabupaten Pesawaran. Dua lokasi tersebut adalah Puncak Kantong Semar dan Puncak Nirwana. Selanjutnya, ia mengungkapkan kisah menarik ini kepada Krakatoa.id di ruang kerjanya pada Jumat, 29 Mei 2026.
“Kesannya gunung di Lampung tidak terlalu tinggi tetapi tidak manusiawi, jujur nih saya bilang begitu. Kenapa? Karena medan itu sempat membanting-banting saya. Jadi, jalannya berupa tanah merah, kemudian ada tumpukan daun yang menyerupai gambut. Selain itu, akarnya panjang dan pohonnya sangat besar,” ujar Amiek sambil tertawa.
Menikmati Keindahan Flora dan Fauna Langka Sumatra
Meskipun menghadapi medan yang sangat berat, Amiek tetap mengagumi keasrian alam Lampung. Sebab, kawasan pegunungan Sumatra ini masih menyimpan vegetasi yang sangat alami. Sebagai contoh, ia melihat langsung bunga kantong semar yang langka di puncak gunung pada awal Februari 2026 lalu. Bahkan, pemandangan dari atas langsung menyuguhkan hamparan laut yang indah dan Puncak Cendana.
Tidak hanya itu, satwa langka yang lestari juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendaki. Berdasarkan pengalamannya, kawanan monyet siamang dan burung gagak berukuran besar masih hidup bebas di sana. Tentu saja, kondisi ini sangat berbeda dengan gunung-gunung di Pulau Jawa yang kini sudah ramai dan penuh sesak seperti pasar.
Menurut Amiek, Puncak Kantong Semar sebenarnya hanya memiliki ketinggian sekitar 1.660 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sementara itu, Puncak Nirwana juga memiliki ketinggian yang tidak jauh berbeda. Namun, jalur tanah merah yang licin setelah guyuran hujan membuat pendakian tersebut benar-benar menguras fisik dan emosi.

Filosofi Mendaki: Dari Gunung Hingga Urusan Jabatan
Menariknya, Amiek mengaitkan pengalaman ekstrem tersebut dengan sebuah filosofi kehidupan yang mendalam. Menurutnya, ada sebuah ungkapan bahwa orang yang bisa menaklukkan gunung di Jawa belum tentu bisa menaklukkan gunung di Sumatra. Sebaliknya, jika seseorang mampu menaklukkan gunung di Sumatra, maka ia pasti bisa menaklukkan gunung di Jawa.
Selanjutnya, Amiek menghubungkan filosofi pendakian ini dengan tanggung jawab dalam mengemban jabatan. Ia menilai seorang pemimpin tidak boleh hanya sukses di daerah asalnya saja, seperti di Pulau Jawa. Oleh karena itu, aparatur negara harus mampu menunjukkan kualitas kerja terbaik saat mendapat tugas di daerah lain yang lebih menantang.
Kesimpulannya, wilayah Sumatra, khususnya Lampung, memiliki karakteristik masalah yang jauh lebih kompleks. Apalagi, Lampung memegang peran strategis sebagai pintu gerbang perlintasan antar-pulau. “Oleh sebab itu, kami menghadapi banyak hal penting yang menjadi perhatian dan harus segera menyelesaikannya dengan baik,” pungkas Amiek menutup ceritanya.***






