Singkong Lampung Tak Lagi Cukup Dijual Mentah, Gubernur Tantang Mahasiswa Unila Ciptakan Nilai Tambah

KRAKATOA.ID, BANDAR LAMPUNG — Singkong, kopi, nanas, pisang hingga komoditas pertanian lainnya menjadi kekuatan ekonomi Lampung. Namun, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal ingin kekayaan tersebut menghasilkan nilai yang jauh lebih besar.

Karena itu, ia menantang mahasiswa Universitas Lampung (Unila) untuk ikut mengembangkan teknologi, menciptakan produk olahan, membangun usaha, hingga membuka pasar ekspor dari kekayaan alam Lampung.

Pesan tersebut Rahmat sampaikan saat menghadiri Program Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Unila 2026 di Gedung Serbaguna (GSG) Unila, Selasa (11/8/2026).

PKKMB Unila tahun ini mengusung tema “Dari Kampus untuk Lampung: Mahasiswa Berdampak bagi Daerah”. Berdasarkan panduan resmi Unila, kegiatan tersebut diikuti 9.450 mahasiswa.

Gubernur Ingin Mahasiswa Melihat Potensi Lampung dari Sisi Bisnis

Di hadapan ribuan mahasiswa baru, Rahmat mengajak generasi muda melihat sumber daya alam Lampung bukan sekadar komoditas.

Menurutnya, padi, jagung, singkong, nanas, pisang, lada, tebu, kopi, karet, kelapa, kakao, kelapa sawit, peternakan, dan perikanan memiliki peluang besar untuk menghasilkan produk bernilai tinggi.

“Lampung adalah daerah yang sangat subur dan kaya dengan pertanian. Kekayaan Lampung inilah yang harus kita kelola dengan sumber daya manusia yang berkualitas,” ujar Rahmat.

Persoalannya, kekayaan alam saja tidak otomatis membuat masyarakat semakin sejahtera. Lampung membutuhkan SDM yang mampu mengubah bahan baku menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Di sinilah mahasiswa Unila mendapat tantangan.

Rahmat ingin mahasiswa mulai memikirkan apa yang bisa mereka lakukan terhadap potensi daerah selama masih berada di bangku kuliah.

Hilirisasi Jadi Tantangan Generasi Muda Lampung

Selama ini, banyak komoditas memiliki rantai ekonomi yang panjang sebelum sampai ke konsumen. Rahmat ingin Lampung mengambil porsi lebih besar dari proses tersebut melalui hilirisasi.

Bahan baku lokal, kata dia, harus bisa masuk ke industri pengolahan dan menghasilkan produk jadi.

BACA JUGA :  Perbaikan Infrastruktur Jalan Menjadi Prioritas Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal

“Bagaimana mengelola ini? Inilah yang diajarkan di universitas-universitas yang ada di Provinsi Lampung, termasuk di Universitas Lampung,” katanya.

Ide tersebut membuka ruang bagi mahasiswa dari berbagai jurusan untuk mengambil peran. Anak teknik bisa mengembangkan mesin pengolahan. Mahasiswa pertanian dapat mencari inovasi produksi. Bidang ekonomi bisa merancang model bisnis, sedangkan mahasiswa teknologi informasi dapat membantu pemasaran digital.

“Anak-anak teknik harus berpikir bagaimana kekayaan kita bisa dikelola menjadi produk jadi. Begitu juga semua fakultas harus punya keinginan bagaimana menjadikan dirinya bermanfaat untuk Provinsi Lampung,” ujar Rahmat.

Dengan pola seperti itu, kampus tidak hanya menghasilkan lulusan. Perguruan tinggi juga dapat menjadi tempat lahirnya inovasi yang menjawab kebutuhan ekonomi daerah.

Singkong Jadi Contoh Besar Potensi Hilirisasi

Dari berbagai komoditas Lampung, singkong mendapat perhatian khusus. Komoditas ini memiliki peluang untuk masuk ke berbagai produk olahan dan industri bernilai tambah.

Pemprov Lampung bersama Unila juga akan mendorong pengembangan National Cassava Center. Fokus tersebut dapat memperkuat riset dan inovasi terkait singkong sekaligus membuka ruang kolaborasi bagi mahasiswa.

Riset kampus nantinya dapat menjawab persoalan dari hulu hingga hilir. Mulai dari peningkatan produktivitas, pengolahan bahan baku, teknologi produksi, pengemasan, pemasaran, sampai pengembangan produk baru.

Jika ekosistem tersebut berjalan, singkong tidak hanya menghasilkan pendapatan dari penjualan bahan mentah. Industri turunannya juga dapat menciptakan lapangan kerja dan memperluas peluang usaha masyarakat.

SDM Menjadi Modal Utama

Potensi ekonomi Lampung, menurut Rahmat, membutuhkan satu modal utama: manusia yang mampu mengelolanya.

“Ketika sumber daya manusia maju, maka peradaban akan maju. Ketika sumber daya manusia tidak maju, maka peradaban akan mundur,” tegasnya.

Pendidikan tinggi pun memiliki posisi penting dalam membangun kualitas tersebut. Rahmat mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan kuliah sekadar perjalanan menuju ijazah.

BACA JUGA :  Baleg DPR RI Kunjungi Lampung Bahas Tata Niaga Singkong, Gubernur Mirza Desak Regulasi Nasional

Masa perkuliahan harus mahasiswa manfaatkan untuk membentuk karakter, memperluas wawasan, mengasah keberanian, mengembangkan kreativitas, dan membangun kemampuan bekerja sama.

“Dengan SDM yang bagus, kita akan bisa mengelola kekayaan Provinsi Lampung untuk memakmurkan Provinsi Lampung dan mencapai cita-cita Indonesia Emas,” katanya.

AI Bisa Jadi Senjata Baru Mahasiswa

Tantangan mahasiswa tidak berhenti pada persoalan komoditas. Perubahan teknologi juga menuntut generasi muda meningkatkan kemampuan.

Artificial Intelligence atau AI menjadi salah satu teknologi yang harus mahasiswa pahami. Rahmat mendorong mahasiswa mengikuti perkembangan teknologi tanpa meninggalkan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas.

“Mahasiswa ke depan adalah agen subjek pembangunan. Bagaimana mahasiswa menyalurkan pemikiran, ide baru yang kreatif, mengasah soft skill melalui organisasi serta beradaptasi terhadap teknologi modern dan AI,” ujarnya.

Kemampuan tersebut akan semakin penting ketika mahasiswa memasuki dunia kerja. Mereka bukan hanya bersaing dengan lulusan kampus lain di Indonesia, tetapi juga dengan tenaga kerja dari berbagai negara.

“Jangan sia-siakan waktu kalian di kampus. Jadikan kampus ini kompetisi kalian dengan seluruh dunia. Kalian berkompetisi bukan hanya dengan teman sebangku atau teman sekelas, tetapi dengan seluruh dunia,” tegas Rahmat.

KKN Didorong Jadi Ruang Mahasiswa Menguji Gagasan

Tidak hanya sektor industri, pembangunan desa juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu.

Pemprov Lampung dan Unila akan memperkuat kolaborasi melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan program Desaku Maju.

Lewat program tersebut, mahasiswa dapat membantu desa mengembangkan potensi ekonomi sekaligus menguji gagasan yang mereka pelajari di kampus.

Target pemerintah pun tidak kecil. Rahmat ingin desa-desa di Lampung berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.

“Dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan, kita ingin desa-desa di Provinsi Lampung tumbuh, besar, bagus dan maju,” katanya.

BACA JUGA :  Gubernur Lampung Terima Kunjungan INI, Dukung Rencana Lomba Lari 5K dan Kegiatan Sosial

Kolaborasi seperti ini membuat mahasiswa tidak harus menunggu wisuda untuk mulai berkontribusi. Mereka bisa mengembangkan solusi sekaligus membangun pengalaman sejak masih kuliah.

Gubernur: Jangan Tunggu Lulus untuk Berdampak

Rahmat kemudian mengingatkan mahasiswa baru bahwa waktu di kampus tidak akan kembali.

Ia meminta mereka menggunakan masa kuliah untuk membangun karya, memperluas jaringan, mengikuti organisasi, melakukan riset, dan terlibat dalam kegiatan masyarakat.

“Jadikan lima tahun, empat tahun, atau tiga tahun kalian di kampus sebagai masa berdampak. Belajar ketika di kampus, kita sudah bisa memberikan dampak kepada masyarakat,” ujarnya.

Harapan tersebut menjadi semakin penting karena ribuan mahasiswa baru Unila memiliki latar belakang yang beragam. Mereka datang dari berbagai daerah dan membawa pengalaman serta gagasan masing-masing.

Rahmat melihat keberagaman itu sebagai modal untuk membangun Lampung.

“Setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi dan meninggalkan jejak pengabdian,” katanya.

Masa Depan Lampung Ada di Tangan Generasi Muda

Pada akhirnya, pesan Rahmat kepada mahasiswa Unila bermuara pada satu hal: kualitas generasi muda akan menentukan arah Lampung di masa depan.

Pemerintah daerah, menurutnya, memiliki tugas menjalankan kebijakan. Sementara itu, perguruan tinggi dapat menggerakkan pendidikan, riset, dan inovasi.

“Pemerintah daerah memegang kemudi kebijakan, perguruan tinggi menyalakan mesin inovasi melalui pendidikan. Bersama kita bergerak cepat menuju satu tujuan, yaitu masyarakat yang sejahtera,” katanya.

Rahmat pun meminta mahasiswa membangun kemampuan sekaligus menjaga akhlak dan kepedulian sosial.

“Di tangan kalianlah rakyat Lampung ke depan akan sejahtera atau tidak, tergantung dari kualitas sumber daya manusia, terutama anak-anak Unila,” pungkasnya.***