Kebijakan Pengelolaan SDA berdampak pada Kerusakan Hutan Indonesia Berkontribusi 58,2 % Perusakan Hutan Tropis Dunia

Oleh:                                                                                                           
Ir. Akhmad Dzakwan.,S.Si., M.Ling.
Prof. Dr. Ir Christine Wulandari.,M.Sc.
Dr. Ir. Samsul Bakri., M.Si
Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Lampung

 

KRAKATOA.ID — Kasus Rusaknya hutan tropis diIndonesia tidak tanggung tanggung, mampu menyumbang kerusakan hutan tropik dunia sebesar 52,8% dari total kerusakan Hutan Dunia. Hasil Penelitian menunjukan deforestasi dari 26 negara yang diteliti yaitu Hutan tropis, terjadi deforestasi akibat dari aktifitas industri pertambangan di Indonesia ini mencapai puncaknya pada periode 2010–2014, dan berlanjut hingga hari ini.

Betapa para malaikat akan menangis melihat sebagian bangsa Indonesia masih ada yang tidak amanah setelah diberi tanah air yang indah Hijau Royo Royo bagaikan Jamrut dikatulis Tiwa, dimana tanahnya subur makmur gemah ripah loh jinawi. Mungkin para Penambang Hutan di Indonesia sudah memasuki level DaJJal atau sang perusak di hari Akhir. Sebuah contoh didepan mata kita kerusakan wilayah hutan akibat penambangan. Penyidik Pegawai Negeri Sipil dari Balai Wilayah Sungai Kalimantan III menunjukkan tambang batu bara ilegal yang memasuki kawasan hijau Waduk Samboja di Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Aktivitas tambang ini mengancam kualitas air Waduk Samboja yang digunakan sekitar 1.000 keluarga di tempat ibadah, sekolah, dan rumah.

Dahulu Negeri kita ini negeri yang terindah dikatulis tiwa,,,Namun keindahan itu telah sirna, sekarang yang tinggal hanyalah nama. Mungkin bagi generasi tua kita di era tahun tujuh Puluhan masih ingat dan terngiang ngiang sairnya kelompok Ben Kus Plus

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Hasil penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal PNAS pada Senin (12/9/2022) oleh dari Institute for Ecological Economics, Vienna University of Economics and Business, Austria dan tim. Kajian dilakukan terhadap 26 negara yang memiliki hutan hujan tropis. Para peneliti menganalisis tumpang-tindih koordinat geografis tambang industri yang beroperasi pada 2000-2019 dengan data hilangnya hutan dari dataset Global Forest Change untuk periode yang sama. Data tersebut mencakup 26 negara yang mewakili 76,7 persen dari total deforestasi tropis yang diamati dari tahun 2000–2019.

BACA JUGA :  Jenazah Pekerja Migran Korban Perdagangan Orang Terus Berdatangan

Tak heran akibat kerusakan hutan dunia menyebabkan naiknya kadar CO2 global yang mengakibatkan adanya pemanasan global,Efek naiknya kadar CO2 diudara akan terbentuk efek rumah kaca (green House Effect). Adapun hilangnya sebagian Hutan akan berakibathilangnya ekosistem yang mampu menyerap panas. Hutan memliki fungsi ganda. Dibagian bawahnya bagaian akar hutan mampu jadi penyangga sebagai penyerap air ketika terjadi hujan sehingga mencegah terjadinya banjir dan tanah longsor, sedangkan pada bagian atas hutan yaitu bagian daunnya hutan mampu menyerap panas bak Isolator raksasa berupa peredam panas yang membentang sepanjang ribuan kilometer. Kemampuan hutan tidak diragukan dalam menyerap panas dari cahaya matahari sampai jutaan kilo Joule. Efek yang lain akibat hilangnya sebagian hutan dibumi juga bisa menyebabkan terjadinya perubahan perubahan iklim dunia.

Para Ilmuwan telah menemukan bahwa 3.264 kilometer persegi hutan hilang karena industri pertambangan, dengan 80 persen terjadi hanya di empat negara, yaitu Indonesia, Brasil, Ghana, and Suriname,” . Kajian ini menemukan, untuk Indonesia, Brasil, dan Ghana, deforestasi tropis dari pertambangan industri mencapai puncaknya pada 2010–2014, tetapi berlanjut hingga hari ini. Pertambangan batu bara di Indonesia khususnya meningkat dua kali lipat pada periode ini karena pertumbuhan produksi untuk memenuhi peningkatan permintaan dari China dan India. Cakupan perusakan hutan di Indonesia terutama terjadi di Kalimantan Timur yang kehilangan 19 persen tutupan pohonnya dalam dua dekade terakhir.

Bedasarkan paper yang sebelumnya china sebagai negara yang memanfaatkan batubara untuk kepentingan industrinya telah mengalami kerusakan lingkungan yang hebat. Sungai sungai dichina telah terkontaminasi oleh limbah industri. Udara telah tercemar oleh gas buangan akibat aktifitas industri.

Dalam periode 2010-2014, Indonesia kehilangan hutan seluas 1.901 kilometer persegi akibat pertambangan, yang menyumbang 0,7 persen dari total kehilangan hutan seluas 267.591 kilometer persegi sejak tahun 2000. Ekstraksi batu bara di Provinsi Kalimantan Timur menjadi penyebab utama deforestasi terkait pertambangan di Indonesia. Sementara di Brasil, deforestasi terutama disebabkan penambangan bijih besidanemas di Negara Bagian Minas Gerais.

BACA JUGA :  Hingga H-4 Lebaran, Sudah 470.495 Orang Tinggalkan Jawa menuju Sumatera

Sementara itu, penambangan bauksit dan emas mendominasi di Ghana dan Suriname. Lebih dari dua pertiga negara yang diteliti dalam jarak 50 kilometer dari area yang ditetapkan untuk tambang mengalami tingkat deforestasi yang lebih tinggi yang tidak terkait dengan faktor lain. Studi ini menunjukkan perlunya analisis mengenai dampak lingkungan dan persyaratan perizinan lainnya untuk industri pertambangan dengan memasukkan cakupan geografis yang lebih luas serta mencakup lebih banyak wilayah di luar wilayah konsesi proyek. Permohonan untuk proyek pertambangan baru juga tidak boleh diperiksa secara terpisah; dampak kumulatif dari proyek lain, seperti pembangunan pertanian, perlu dipertimbangkan.”Ada berbagai kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh operasi pertambangan selain deforestasi, termasuk perusakan ekosistem, hilangnya keanekaragaman hayati, gangguan sumber air, produksi limbah berbahaya.Sebuah contoh yang nyata dan dapat dilihat sammpai hari ini adanya beberapa lubang yang besar bekas tambang dibiarkan terbuka dan tidak direklamasi di Anggana, Kutai Kartanegara, kalimantan Timur, Minggu (25/11/2022). Eksplorasi tambang batu bara di Kalimantan Timur sudah sangat merajalela dan kronis. Dampak lingkungan yang terjadi pun semakin tak terkendali.

Telah ditemukan sekitar 3.264 kilometer persegi hutan hilang karena industri pertambangan, dengan 80 persen terjadi hanya di empat negara, yaitu Indonesia, Brasil, Ghana, and Suriname.Para ahli mengatakan izin pemerintah harus mempertimbangkan industri tambang dapat dengan mudah mengganggu lanskap dan ekosistem. Pertambangan industri tetap menjadi kelemahan tersembunyi dalam strategi mereka untuk meminimalkan dampak lingkungan.

Saat ini ada tren permintaan mineral yang berkembang pesat, khususnya logam untuk energi terbarukan dan teknologi e-mobilitas, seperti nikel. ”Pemerintah dan industri harus mempertimbangkan dampak langsung dan tidak langsung dari ekstraksi. Mengatasi dampak ini merupakan alat penting untuk melestarikan hutan tropis dan melindungi mata pencarian masyarakat yang tinggal di hutan..

BACA JUGA :  Survei Dailysocial.id Mencatat OVO Selaku E-money Terbanyak Digunakan

Ada dua pilihan dalam menghadapi isu kerusakan alam akibat perkembangan industri di bidang otomotib dan Elektronik serta kebutuhan transportasi. Akibat kebutuhan industri dibidang otomotip terjadi penambangan biji besi yang tidak terelakan dan menimbulkan kerusakan hutan dan kerusakan lingkungan . Akibatnya terjadi kehilangan hutan sementara kebutuhan biji besi dunia masih sangat tinggi. Begitu juga perkembangan industri elektronic yang semakin pesat juga menyebabkan terjadinya penambangn Nikel, Penambangan Silikon dan lain lain

Pakar Kehutanan dari IPB University, yang tidak turut dalam kajian ini mengatakan, meskipun deforestasi total Indonesia telah menurun setiap tahun sejak 2015, temuan ini menekankan perlunya perencanaan tata guna lahan yang kuat untuk memastikan pertambangan tidak merusak hutan atau melanggar hak masyarakat. Penelitian sebelumnya di Amazon, Brasil, telah menunjukkan bahwa mengakui dan menegakkan hak milik kolektif masyarakat adat dan komunitas lokal adalah salah satu cara paling efektif untuk mencegah deforestasi. Berbagai data menunjukkan, deforestasi di wilayah adat jauh lebih rendah daripada di tempat-tempat yang dikelola oleh pemerintah atau swasta lain. Laporan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa terbaru telah menguatkan hal ini. ”Mendukung penentuan nasib sendiri masyarakat adat, mengakui hak-hak masyarakat adat dan mendukung adaptasi berbasis pengetahuan masyarakat adat sangat penting untuk mengurangi risiko perubahan iklim dan adaptasi yang efektif.”