Tari Tjimande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir Dusun Citerep Natar Lampung Selatan Riwayat dan Perkembangannya

KRAKATAO.ID, NATAR – Perkembangan Tari Tjimande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir (TTKKDH) di Dusun Citerep, Desa Merak Batin, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan tak lepas dari 9 tokoh sentral yang membawa salah satu jenis seni bela diri ini ke Pulau Sumatera.

Tari Tjimande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir merupakan salah satu hasil pengembangan aliran seni pencak silat Cimande yang ada di Indonesia. Dalam perkembangannya, aliran silat tersebut mengembangkan gerakan-gerakan indah yang disebut tari Cimande atau Igel yang merupakan gabungan seni tari yang mempertontonkan keindahan gerak silat yang diambil dari jurus-jurus silat Cimande.

“Asal musalan Tari Tjimande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir (TTKKDH) itu pencetus utamanya Mbah Haer dari Bogor. Dibawa ke Lampung oleh Pak Sukarno Madaris itu yang ada di Lampung,” jelas Amak Sanjaya, sesepuh sekaligus pelatih TTKKDH Dusun Citerep, Desa Merak Batin, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Sabtu (30/12/2023).

“La satelah itu lah berkembang lah itu adalah yang di Palembang dari Mbah Buyah, pokokonya daerah Sumatera Selatan sana, dari Palembang sampai turun ke sini ke Way Kanan segala itu bawaan dari Mbah Buyah, “ jelas Abah Amak, begitu panggilan akrabnya.

Amak Sanjaya, sesepuh sekaligus pelatih TTKKDH Dusun Citerep, Desa Merak Batin, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan.

Dijelaskan Abah Amak Sukarno Madaris merupakah tokoh yang membawa seni bela diri TTKKDH ke Bumi Lampung.

“Kalau untuk Lampung Selatan ini bawaan dari Pak Sukarno Madaris itu adalah yang di Pepokoh Tari Tjimande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir. Semuanya 9 orang, pertama Mbah Haer, kedua Mbah Buyah, ketiga Ayah Aliyah, keempat Ayah Kursi, kelima Abah Endut, keenem Cekanteng, ke delapan Pak Main, kesembilan Pak Sukarno Madaris, itu adalah yang di Pepokoh Tari Tjimande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir,” jelasnya.

Menurut Abah Amak, TTKKDH kemudian dibawa masuk ke Dusun Citerep oleh Abah Saidun pada tahun 1990-an.

“Berdiri di Citerep itu dibawa dari Abah Saidun, beliau itu yang bawa dari Labuhan Ratu, turun. Karena yang di sini pelatihnya Abah Nurimin, dari Abah Nurimin turun ke saya; Abah Amak. Tahunnya sekitar tahun 1990-an. Nah saya untuk di Citerep Rt.07 ini mulai tahun 2017 sampai sekarang,” katanya.

BACA JUGA :  Rektor Unila Sosialisasikan Keringanan UKT di FISIP

Abah Amak menjelaskan anggota TTKKDH yang aktif di Dusun Citerap berjumlah sekitar 50-an orang.

“Kalau anggotanya banyak itu, ini kan istilahnya penerusnya yang baru-baru ya yang Ranting Citerep aja. Kalau kita mungkin ada ratusan, cuma yang di Citerep ini kita sekitar 50-an lebih,” papar dia.

Munthoha, salah satu tokoh dan pelatih TTKKDH di Dusun Citerep.

Kepada Krakatoa.id, Abah Amak memaparkan perbedaan TTKKDH dengan seni bela diri lainnya.

“Sebenernya kalau kita bedakan dengan seni bela diri yang lain itu sama sebenernya seni bela diri itu ya. Cuma kadang-kadang yang membedakan itu kan orangnya. Karena apa? Karena di dalam Pepokoh itu kita sebut sembilan orang itu dari berbagai macem-macem cabang bela diri, ada yang dari PS ada yang dari Bandrong, ada yang dari Pulau Kali, ada yang dari Pagaruyung, ada yang dari Silat Lampung, itu ada semua di 9 orang itu. Jadi dikup jadi satu oleh Mbah Haer itu didirikan lagi Pepokoh Tari Tjimande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir. Jadi kita enggak bisa membedakan antara bela diri ini, yang paling bagus bela diri ini itu enggak bisa memvonis bahwa perguruan ini kurang begini, kurang begini itu enggak bisa, karena itu sama jenisnya, jenis bela diri itu aja.”

“Kenapa disebut tari? Dulunya kan kalau kita sebut silat mungkin udah ditangkepin Belanda katanya gitu, makanya disebutin tari gitu, jaman dulunya, Mbah Haer itu bilangnya begitu,” tangas Abah Amak.

Sementara itu Munthoha, tokoh TTKKDH yang lain di Dusun Citerep menyampaikan alasan dipadukannya jurus bela diri dengan gerakan-gerakan indah.

“Ini strategi Abah-Abah kita zaman dulu, ini mengkemasnya untuk membekali perlawanan kepada penjajah dulu seperti di luar negeri, itu di kaum Negro itu Tari Kapuera ya, Kapuere itu dikemas jadi tari, tapi sebetulnya itu jurus bela diri. Begitu pula abah-abah kita Abah Haer terutama mengkemas jurus beladiri yang tujuannya untuk melawan penjajahan itu dikemas dengan tari. Yang semua gerakan-gerakan tari itu sebetulanya gerakan-gerakan silat yang mematikan bisa melumpuhkan musuh,” tambah Munthoha.

BACA JUGA :  Penelitian Laboratorium THP Fakultas Pertanian Unila Terima Sertifikat Internasional
Para murid TTKKDH Ranting Dusun Citerep, Desa Merak Batin, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan.

Untuk jenis jurus TTKKDH lanjut Abah Amak, ada banyak macam mulai dari tangan kosong mau pun menggunakan senjata.

“Untuk jurus banyak. Kalau kelid itu ada 14 kelid. 14 kelid itu bukan hanya satu jurus mematikan ya, ada yang cekek dari belakang, ada yang dipegang ini kita harus bisa, melepas golok di mana gitu, semua ada. Ada yang pakai senjata ada yang pakai tangan kosong. Senjata pun engak hanya golok, kan ada yang pakai trisula, ada yang pakai toya, kan gitu. Itu dari 14 kelid itu ada isinya masing-masin,” papar Abah Amak.

Munthoha menambahkan untuk masing-masing jurus tidak semua langsung diberikan kepada anak-anak didik yang dilatihnya, semuanya berjenjang.

“Untuk anak-anak yang baru belajar sampai usia tertentu, secara nalar kan mereka masih belum dewasa lah gitu. Jadi kalau kita bekali dengan kelid-kelid, jurus-jurus yang membahayakan, satu gerakan bisa mematahkan tangan, satu gerakan bisa mematahkan kaki, satu gerakan bisa mematahkan leher dan sebagainya kita belum kasih itu. Baru kita kasih gerakan tari-tarinya, jadi untuk membungkus itu. Kemudian meningkat untuk yang sudah dewasa baru kita berikan pemahaman bahwa gerekan ini punya makna seperti ini, satu untuk menangkal, satu untuk mengelak dan satu untuk menyerang. Jadi konsepenya di dalam TTKDH itu sekali kita pukul, kesempatan 100 kali kita bisa menguasai musuh, tapi dengan cara santun, dengan cara lembut, tari,” papar Munthoha.

Untuk jadwal latihan TTKKDH di padepokannya lanjut Abah Amak dilakukan setiap satu minggu sekali.

“Kalau sementara itu latihannya kita ambil seminggu sekali, karena anak-anak kan kadang sekolah nih, kita takut ganggu pelajaran sekolah. Karena sekolah sekarang ini kan dari pagi sampai sore ya, takutnya kita mengganggu pelajaran sekolah. Kalau malam Minggu mau sampai jam 1, mau sampai jam 2 enggak jadi masalah,” paparnya.

BACA JUGA :  Wanita Katolik RI DPD Lampung Gelar Pembekalan Pengurus
Peatih TTKKDH Dusun Citerep, Desa Merak Batin, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan.

Disinggung terkait tingkatan tertinggi dari seni bela diri TTKDH dijelaskan Munthoha adalah kebal senjata tajam, namun tidak semua diwarisi. Bagi yang hendak menguasi dibutuhkan peminaan khusus baik fisik maupun spiritualnya.

“Jadi kalau yang di sini nanti itu setelah mereka menguasai semua yang ada di TTKDH ini kemudian ada yang mau menguasai itu memang ada semacam ritual khusus, istilahnya pelajaran tersendiri lah. Itu harus betul-betul dia apa namnya kan kita ada zikiran juga tiap malam Rabu. Kalau secara religusnya sudah mapan baru kita kasih arahan ke yang sifatnya seperti itu. Sebenernya kalau yang sudah pembinaan religiusnya belum mapan, nanti kita kasih ini untuk pamer-pamer, wah ini anti bacok, anti, anti segala macem, takutnya seperti itu. Sehingganya tidak semua yang ada di sini nanti kita kasih, hanya anak-anak didik yang secara religius mapan, ahlaknya baik, baru kita berikan untuk yang anti golok dan sebagainya. Di sini ada beberapa sih, cuma sebagaian ada yang pindah,” pungkas Munthoha.

Abah Amak pada kesempatan ini menyisipkan pesannya untuk generasi muda.

“Ya insyaalah untuk generasi muda, mudah-mudahan ya generasi muda kita yang sekarang ini istilahnya menyenangi dengan seni bela diri TTKKDH yang disebut Cimande atau Tari Tjimande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir. Warisan nenek moyang kita dari pendahulu kita, ya itulah seni bela diri kita orang-orang Indonesia itulah yang harus kita lestarikan, mudah-mudahan anak-anak kita yang remaja atau yang dewasa atau yang anak-anak mudah-mudahan semuanya inyaallah bisa berjalan dengan lancar,” tutup Abah Amak.***