Reaksi di Kuala Lumpur soal Raja Baru Malaysia

Sultan Ibrahim Iskandar, miliarder yang memerintah negara bagian Johor, dinobatkan sebagai raja baru Malaysia pada Rabu. Dia naik takhta untuk masa jabatan lima tahun berdasarkan sistem monarki bergilir yang unik. Simak reaksi dan harapan rakyat terhadap raja baru tersebut.

KRAKATOA.ID, KUALA LUMPUR (AP) — Sultan Ibrahim Iskandar, 65 tahun, dinobatkan sebagai raja baru Malaysia di istana. Ia menandatangani instrumen proklamasi jabatan dalam upacara yang disaksikan keluarga kerajaan lainnya, Perdana Menteri Anwar Ibrahim, dan anggota Kabinet.

Mohamed Syafik adalah seorang insinyur yang tinggal di Kuala Lumpur. Harapannya terhadap raja yang baru.

“Dapat meningkatkan kembali citra Malaysia di mata dunia. Satu lagi, saya juga berharap Tuanku dapat melihat masalah sosial ekonomi rakyat yang akhir-akhir ini agar meruncing, supaya rakyat kita dapat berdiri sama tinggi, duduk sama rendah dengan negara ASEAN lain,” harapnya.

Termasuk orang terkaya di Malaysia, Sultan Ibrahim memiliki kerajaan bisnis yang luas, mulai dari real estat dan telekomunikasi sampai pembangkit listrik. Raja yang jujur ini memiliki hubungan dekat dengan Anwar Ibrahim dan pemerintahannya bisa mendukung pemerintahan persatuan Anwar, yang menghadapi oposisi Islam yang kuat.

Ahmad Zaini adalah pebisnis yang tinggal di Kuala Lumpur. Harapannya terhadap raja baru, “Kami sebagai rakyat jelata berharap raja dapat memerintah dengan lebih baik dari segi ekonomi sosial, dan dapat membantu rakyat dalam kehidupan dan juga menyatupadukan sosial politik kita supaya lebih makmur dan juga memberi ekonomi yang lebih baik pada Malaysia pada tahun yang akan datang.”

Shukur Khamis adalah pensiunan yang juga tinggal di Kuala Lumpur. Harapannya sama seperti disampaikan Zaini, terkait sosial ekonomi dan sosial politik. Satu yang ia tambahkan, raja baru akan menghadirkan keadilan bagi rakyat Malaysia.

BACA JUGA :  Sabet The Winner Of OGP Award 2023 Se-Asia Pasific Di Estonia, BPHN Kemenkumham Harumkan Indonesia di Mata Dunia

“Untuk itu, saya yang berbanggalah pada raja yang baru ini karena dia tegas dengan segala-galanya demi rakyat Malaysia. Insya Allah.”

Sembilan penguasa negara bagian etnis Melayu bergiliran menjadi raja untuk masa jabatan lima tahun. Ini satu-satunya sistem seperti itu di dunia sejak Malaysia meraih kemerdekaan dari Inggris pada 1957.

Malaysia mempunyai 13 negara bagian tetapi hanya sembilan yang memiliki kerajaan. Sebagian dari mereka berasal dari kerajaan Melayu berusia ratusan tahun yang merupakan negara bagian merdeka hingga akhirnya disatukan oleh Inggris.

Naiknya Sultan Ibrahim ke takhta nasional sudah diperkirakan secara luas oleh sesama sultan pada Oktober berdasarkan tatanan rotasi yang telah ditetapkan. Sultan Nazrin Shah, penguasa negara bagian Perak dan pewaris takhta berikutnya, terpilih kembali sebagai wakil raja.

Dikenal sebagai Yang Dipertuan Agung, raja memainkan peran seremonial karena kekuasaan administratif berada di tangan perdana menteri dan Parlemen. Raja adalah kepala pemerintahan dan angkatan bersenjata, dan sangat dihormati sebagai pelindung Islam dan tradisi Melayu.

Semua undang-undang, pengangkatan Kabinet dan pembubaran Parlemen untuk pemilihan umum memerlukan persetujuannya. Raja mempunyai kekuasaan untuk mengumumkan keadaan darurat dan mengampuni penjahat.

Sultan Ibrahim menggantikan Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah dari negara bagian Pahang. Ia memimpin masa penuh gejolak termasuk lockdown terkait COVID-19 dan ketidakstabilan politik.

Pengaruh politik raja telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Sultan Abdullah pernah melakukan intervensi pada masa lalu untuk memutuskan siapa yang menjadi perdana menteri, termasuk menunjuk Anwar sebagai perdana menteri setelah pemilu 2022 menyebabkan parlemen terkatung-katung.

Sultan Ibrahim telah mengindikasikan bahwa, seperti orang yang ia gantikan, ia pun akan melakukan pendekatan langsung. Dalam wawancara yang terbit bulan lalu di harian Singapura, Straits Times, ia mengatakan tidak ingin menyia-nyiakan lima tahun masa kekuasaan sebagai “raja boneka.” Ia menyatakan akan berfokus pada pemberantasan korupsi dan memperdalam persatuan di negara tersebut.

BACA JUGA :  Kapolri Minta HIPMI Terus Kawal Seluruh Kebijakan Pertumbuhan Ekonomi Ditengah Pandemi Covid-19

Sultan dan penguasa lainnya juga telah memperingatkan adanya upaya oposisi untuk menggulingkan pemerintahan Anwar. Ia menyerukan stabilitas politik.

Sultan Ibrahim, yang ibunya orang Inggris, juga vokal mengenai masalah kesejahteraan. Ia melakukan perjalanan darat tahunan dengan sepeda motor untuk bertemu rakyat di negara bagiannya.

Dia juga tidak merahasiakan kekayaan. Sebelumnya pada Rabu, sultan terbang dari Johor ke Kuala Lumpur dengan jet pribadinya, Boeing 737 berwarna emas dan biru.

Selain armada jet, ia memiliki banyak koleksi mobil dan sepeda motor, serta properti di luar negeri. Sultan Ibrahim juga satu-satunya penguasa yang memiliki tentara swasta – syarat yang disepakati bagi negara bagian tersebut untuk bergabung dengan Malaysia modern.

Profil perusahaan Sultan Ibrahim yang terkenal – termasuk saham dalam proyek pengembangan Forest City bernilai miliaran dolar di Johor dengan pengembang China Country Garden – telah menimbulkan pertanyaan di tengah kekhawatiran akan kemungkinan konflik kepentingan. Ia mengatakan kepada Straits Times bahwa ia berencana menghidupkan kembali proyek jalur kereta api berkecepatan tinggi dengan Singapura dan mendukung proyek Forest City yang bermasalah.

Namun sultan membela bisnisnya. Pada 2015, ia mengatakan bahwa ia harus “mencari nafkah, seperti warga Malaysia pada umumnya” karena ia tidak bisa mengandalkan 27.000 ringgit atau hampir Rp90 juta tunjangan bulanan dari negara.

Istrinya Raja Zarith Sofiah, yang berasal dari keluarga kerajaan lain, adalah lulusan Oxford. Ia seorang penulis yang produktif dan telah menulis beberapa buku anak-anak. Pasangan ini memiliki lima putra dan seorang putri. [ka/jm]