Unila Gelar Lokakarya Pembuatan SOP Pengelolaan Limbah B3

KRAKATOA.ID, BANDARLAMPUNG -– Universitas Lampung (Unila) mengadakan lokakarya khusus untuk pembuatan Standar Operasional Prosedur (SOP) pengelolaan Limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3). Acara ini diperuntukkan bagi kepala laboratorium dan laboran di lingkungan kampus.

Kegiatan yang berlangsung di Ballroom Hotel Radisson, Bandar Lampung, menghadirkan dua narasumber terkemuka dari Unit Laboratorium Terpadu Institut Pertanian Bogor (IPB University), yaitu Dr. Mohammad Khotib, S.Si., M.Si., dan Mohammad Zaky, STP., M.K3.

Dr. Mohammad Khotib memaparkan langkah-langkah krusial dalam penyusunan SOP untuk pengelolaan limbah B3. “Sebelum merumuskan SOP, inventarisasi limbah yang ada adalah hal yang mendasar. SOP harus disesuaikan dengan kondisi laboratorium serta spesifikasi limbah, termasuk jenis dan kuantitasnya,” ujarnya. Khotib menambahkan bahwa SOP yang diterapkan harus seragam dan terintegrasi untuk membentuk sistem yang efektif.

Salah satu fokus utama dalam lokakarya ini adalah pengelolaan limbah cair dengan konsentrasi tinggi. Khotib menjelaskan, limbah cair dengan konsentrasi tinggi harus dikategorikan sebagai B3 dan dikumpulkan untuk diolah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) agar tidak tercampur dengan limbah lain yang berpotensi berbahaya.

Lebih lanjut, Khotib menyarankan agar Unila membuat panduan atau petunjuk pelaksanaan khusus untuk pengelolaan limbah B3 serta aplikasi yang dapat mempercepat proses birokrasi. “Pengelolaan limbah B3 mencakup penetapan, pengurangan, penyimpanan, hingga diserahkan kepada pihak ketiga. Kami berharap adanya aplikasi di level universitas untuk memperlancar proses ini serta mendukung laboran dan staf TPST,” katanya.

Khotib juga menegaskan pentingnya penetapan limbah B3 dilakukan oleh pihak yang memahami karakteristik bahan dengan merujuk pada Material Safety Data Sheet (MSDS). “Dengan mengacu pada MSDS, kita tidak perlu mengklasifikasikan limbah B3 secara manual. Namun, pemeriksaan karakteristik limbah di laboratorium, seperti potensi ledakan atau toksisitas, tetap penting,” jelasnya.

BACA JUGA :  Perdana, Unila Raih Peringkat 601+ Times Higher Education Asia 2024

Identifikasi dan kompatibilitas limbah juga menjadi topik utama dalam lokakarya ini. Khotib menekankan pentingnya identifikasi limbah dan kompatibilitasnya untuk mencegah reaksi berbahaya saat limbah dicampur.

Lokakarya ini bertujuan untuk memastikan Unila dapat menyusun dan menerapkan SOP yang efektif serta sesuai dengan standar keselamatan dalam pengelolaan limbah B3. Diharapkan, upaya ini dapat bersinergi dengan TPST dan mendukung pengelolaan limbah yang lebih aman dan terstruktur di lingkungan universitas.***