Dari Teknik Sipil ke Rektorat: Prof Lusmeilia, Wajah Baru Perempuan STEM dalam Kepemimpinan Akademik

KRAKATOA.ID, BANDAR LAMPUNG – Ketika narasi emansipasi perempuan masih sering terjebak dalam perayaan simbolik, sosok Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., I.P.M., ASEAN Eng., tampil sebagai pengejawantahan nyata bahwa perempuan mampu menembus batas konvensional, bahkan dalam dunia yang selama ini didominasi laki-laki: teknik dan kepemimpinan akademik.

Sebagai Rektor perempuan pertama Universitas Lampung (Unila) sepanjang sejarah, Prof. Lusmeilia bukan hanya menorehkan rekor institusional. Ia juga membawa pesan penting bahwa perempuan tak hanya mampu masuk ke ranah STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics), tapi juga bisa memimpin dan mentransformasikan institusi pendidikan tinggi ke arah yang lebih inklusif dan progresif.

Lahir di Palembang dan menempuh pendidikan teknik sipil hingga ke jenjang doktoral di Prancis, Prof. Lusmeilia menjadi teladan bahwa perempuan Indonesia bisa berkiprah di bidang yang selama ini identik dengan pria—baik secara akademik maupun profesional.

“Saya tumbuh di dunia teknik yang keras dan penuh logika. Tapi justru di sanalah saya belajar bahwa ketekunan dan kualitas intelektual tidak mengenal gender,” ucap Prof. Lusmeilia dalam sebuah diskusi kepemimpinan perempuan di kampus, bertepatan dengan Hari Kartini, 21 April 2025.

Dalam dunia pendidikan tinggi yang kini menghadapi tantangan globalisasi, disrupsi teknologi, hingga kebutuhan akan SDM unggul, kehadiran pemimpin seperti Prof. Lusmeilia membuka lembaran baru: bahwa kepemimpinan perempuan di bidang akademik, khususnya dengan latar belakang teknik, mampu menjadi kekuatan strategis bangsa.

Melalui visi “BE STRONG” yang menjadi fondasi program kerjanya, ia mengintegrasikan nilai-nilai manajemen modern dengan prinsip inklusivitas, di mana kampus tak hanya menjadi pusat ilmu, tapi juga ruang aman dan setara bagi seluruh sivitas, tanpa diskriminasi gender.

Yang menarik, Prof. Lusmeilia tidak menjadikan keberhasilannya sebagai pencapaian individual, melainkan sebagai pintu pembuka bagi lebih banyak perempuan muda untuk berani mengejar bidang-bidang sains dan teknik. Dalam sejumlah forum, ia kerap menggaungkan pentingnya menghadirkan “role model perempuan” di ruang-ruang STEM dan kepemimpinan.

BACA JUGA :  Antusiasme Peserta Temu Alumni dan Jalan Sehat Fakultas Hukum Unila 2024

“Selama ini, perempuan sering dijadikan objek pemberdayaan. Sekarang waktunya perempuan menjadi subjek perubahan,” tegasnya.

Ia juga aktif menginisiasi program mentoring bagi mahasiswa perempuan, mendorong kewirausahaan, serta pelatihan kepemimpinan berbasis potensi lokal. Visi global yang ia bawa dari pengalamannya studi di Eropa diterjemahkan secara kontekstual ke dalam kebutuhan Unila dan masyarakat Indonesia.

Keberadaan Prof. Lusmeilia sebagai pemimpin kampus bukan hanya memecah batas-batas gender dalam birokrasi pendidikan, tetapi juga membentuk narasi baru bahwa perempuan bisa menjadi penggerak utama dalam menjawab tantangan bangsa—terutama melalui pendidikan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Perempuan yang berpendidikan tinggi akan melahirkan peradaban yang tinggi. Bukan sekadar untuk mengejar jabatan, tapi untuk membentuk masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.

Di tengah transformasi Unila menuju universitas berkelas dunia, Prof. Lusmeilia membuktikan bahwa keberanian dan kecerdasan perempuan tidak lagi hanya layak dikagumi—tapi pantas diberi ruang untuk memimpin.***