Lampung Timur Jadi Sorotan, Cakupan Deteksi TBC Baru 13 Persen: Pemprov Dorong “Kejar Kasus” Hingga Desa

KRAKATOA.ID, BANDAR LAMPUNG — Pemerintah Provinsi Lampung menyoroti rendahnya capaian deteksi kasus tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Lampung Timur. Dari estimasi ribuan kasus, penemuan kasus baru baru mencapai 13 persen. Kondisi ini mendorong Pemprov Lampung memperkuat strategi “kejar kasus” hingga tingkat desa.

Wagub Lampung Tekankan Percepatan Temuan Kasus TBC

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela memimpin Rapat Koordinasi TP2TB Lampung Timur secara virtual, Kamis (18/6/2026). Ia meminta seluruh pemangku kepentingan mempercepat penemuan kasus TBC di lapangan.

Jihan menegaskan bahwa penanganan TBC tidak cukup hanya fokus pada pengobatan. Menurutnya, kunci utama ada pada deteksi dini dan pelacakan kontak.

“Penemuan kasus harus menjadi prioritas bersama sampai tingkat desa dan kelurahan,” ujar Jihan.

Gap Besar antara Estimasi dan Temuan Kasus

Dalam rapat tersebut, Pemprov Lampung memaparkan data TBC Lampung Timur tahun 2026. Dari estimasi 3.226 kasus, sistem baru mencatat 418 kasus atau sekitar 13 persen.

Angka ini masih jauh dari target semester pertama sebesar 41,25 persen. Selain itu, investigasi kontak rumah tangga juga masih sangat rendah.

Dari target 3.058 kontak serumah, baru 26 orang atau sekitar 1 persen yang menerima Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).

Kondisi ini menunjukkan masih adanya kesenjangan besar dalam penemuan kasus di masyarakat.

Integrasi Data Masih Jadi Hambatan

Selain capaian rendah, Pemprov Lampung juga menyoroti masalah integrasi data. Sistem Cek Kesehatan Gratis (CKG) belum terhubung optimal dengan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB).

Di sisi lain, Rencana Aksi Daerah (RAD) TBC Lampung Timur juga belum ditetapkan. Kondisi ini membuat koordinasi program belum berjalan maksimal.

Jihan meminta Dinas Kesehatan segera mengatasi hambatan tersebut. Ia menekankan pentingnya data yang cepat dan akurat.

BACA JUGA :  Salam Forum sebagai Komitmen Wahid Foundation Dalam Meningkatkan Toleransi Melalui Konten Berkualitas

Pemprov Kembangkan Skrining Digital TBC

Untuk mempercepat deteksi, Pemprov Lampung mengembangkan inovasi skrining mandiri berbasis digital melalui website Peduli TBC Lampung. Program ini bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI).

Platform ini dilengkapi sistem notifikasi WhatsApp otomatis. Dengan demikian, masyarakat yang terindikasi bisa segera ditindaklanjuti.

Desa Siaga TBC Jadi Garda Terdepan

Pemprov Lampung mendorong penguatan Desa Siaga TBC sebagai ujung tombak penanganan. Program ini fokus pada edukasi, skrining aktif, dan pendampingan pasien.

Selain itu, pemerintah juga meminta puskesmas dan rumah sakit memperkuat pelaporan data secara rutin.

“Tanpa keterlibatan desa, kita akan sulit mengejar target eliminasi TBC 2030,” tegas Jihan.

TBC Tak Hanya Masalah Kesehatan

Jihan juga menyoroti dampak luas TBC terhadap masyarakat. Penyakit ini tidak hanya menyerang kesehatan, tetapi juga mengganggu ekonomi keluarga.

Pasien TBC harus menjalani pengobatan minimal enam bulan. Kondisi ini sering menurunkan produktivitas kerja.

Pemkab Lampung Timur Perkuat Komitmen

Menanggapi kondisi tersebut, Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah menyatakan komitmen memperkuat penanganan TBC. Ia meminta seluruh perangkat daerah mempercepat pelaporan dan penanganan kasus.

Selain itu, Pemkab Lampung Timur juga mempercepat penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD) TBC.

Fokus Baru: Kejar Kasus Hingga Akar Rumput

Melalui penguatan koordinasi lintas sektor, Pemprov Lampung kini mengubah pendekatan dari pasif menjadi aktif. Pemerintah tidak hanya menunggu laporan, tetapi juga mengejar kasus langsung ke masyarakat.

Dengan strategi ini, Pemprov Lampung menargetkan peningkatan signifikan penemuan kasus TBC. Tujuannya jelas, yaitu mempercepat eliminasi TBC tahun 2030 di Lampung.***