Kelompok Mahasiswa Unila Inovasi Biochar Perbaiki Lahan Kering Masam

KRAKATOA.ID, BANDARLAMPUNG — Kelompok mahasiswa Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) dari Jurusan Ilmu Tanah, Universitas Lampung (Unila) menginisiasi inovasi pengayaan biochar menggunakan Trichoderma sp. dengan nutrisi molase sebagai retensi hara di tanah kering masam.

Tim peneliti terdiri dari lima anggota yaitu Vina Sheisya Hasan, Arsita Permata Sari, Intan Maharani Samsi, Jihan Ixora Ditia, Adisty Rahmawanty di bawah bimbingan Dedy Prasetyo, S.P., M.Si., Dosen Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian (FP) Unila.

Menurut Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Indonesia dikenal sebagai negara agraris, dengan luas lahan pertanian yang besar. Sekitar 102 juta hektare lahan dinyatakan sesuai untuk pertanian dan 64,7 juta hektare di antaranya telah digunakan, baik dalam bentuk lahan kering maupun lahan basah.

Lahan kering masam diketahui memiliki ciri pH yang rendah, kapasitas tukar kation (KTK), kejenuhan basa (KB), kandungan hara N, P, dan K, serta kandungan C-organik yang rendah. Dalam mengoptimalkan lahan kering masam dapat dilakukan rehabilitasi yaitu dengan penambahan biochar.

Penggunaan biochar dapat meningkatan aktivitas biologis tanah, meningkatkan karbon tanah dan memperbaiki kualitas tanah.

Untuk meningkatkan kualitas biochar dapat dilakukan dengan pengayaan (enrichment) menggunakan beberapa jamur salah satunya, yaitu jamur Trichoderma sp. Enrichment biochar dilakukan dengan Trichoderma sp. yang kemudian ditambah molase sebagai nutrisi bagi Trichoderma. Proses enrichment akan dilakukan pada kondisi anaerob.

Trichoderma sp. adalah jamur yang memiliki potensi degradasi dekomposisi berbagai substrat heterogen di tanah, dan memproduksi enzim untuk perbaikan nutrisi bagi tanaman.

Trichoderma sp. memiliki kemampuan dalam menghasilkan fitohormion seperti Indolasetic Acid (IAA) sebagai pemacu pertumbuhan tanaman, kemapuan merombak bahan organik (dekomposer) serta memiliki kemampuan melarutkan fosfor (P).

BACA JUGA :  Unila Raih Penghargaan Laporan Keuangan dari Kanwil DJPb Lampung

Biochar yang diperkaya memiliki efektivitas lebih baik jika dibandingkan dengan biochar tanpa diperkaya. Biochar yang diperkaya dengan jamur Trichoderma sp. dapat meningkatkan pH, KTK, kadar N, dan C-organik tanah.

Metode yang digunakan dalam perbanyakan Trichoderma sp. dapat dilakukan dengan bahan-bahan organik yang mudah ditemui seperti dedak, beras, serbuk gergaji dan sekam padi.

Perbanyakan akan dilakukan dengan media PDA dan beras dengan waktu inkubasi pada media PDA selama 7 hari dan pada media beras dan jagung selama 14 hari. Bahan-bahan tersebut mengandung karbohidrat, serat, nitrogen, fosfat, kalium, yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan Trichoderma sp.

Molase mengandung nutrisi yang cukup tinggi sehingga dapat dijadikan sebagai alternatif penambah nutrisi bagi pertumbuhan dan perkembanagan Trichoderma sp.

Berdasarkan permasalahan tersebut, Tim Trichocharcoal memiliki gagasan yaitu biochar yang diperkaya dengan Trichoderma sp. dengan penambahan tetes tebu (molase) sebagai perbaikan tanah dengan tanaman indikator kangkung untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Sehingga inovasi ini dapat menjadi solusi dari pengolahan limbah hasil pertanian yang ada di Indonesia.

Harapan dari Tim Trichocharcoal untuk penelitian ini yaitu upaya yang tepat untuk perbaikan lahan kering masam, sehingga dapat menjadi solusi dari permasalahan tanah kering masam dan alternatif dari pengolahan limbah tetes tebu, alternatif meningkatkan fungsi biochar, dan konservasi tanah untuk pertanian.

Peningkatan C-organik dan pH tanah yang merupakan indikator kualitas tanah. Peningkatan bobot kering kangkung mencerminkan akumulasi senyawa organik yang berhasil disintesis tanaman kangkung optimal.***