Lampung Menuju Pusat Layanan Medis Unggulan: Sinergi Pemerintah dan Inovasi Kesehatan Jadi Kunci

KRAKATOA.ID, BANDAR LAMPUNG — Di tengah meningkatnya kompleksitas tantangan kesehatan, Pemerintah Provinsi Lampung menunjukkan arah baru dalam membangun sistem kesehatan berbasis kolaborasi dan inovasi. Hal ini tampak dalam penyelenggaraan Sriwijaya Hombase Regional Workshop & Scientific Symposium bertema “Emerging Trends In Hematology-oncology: Diagnosis, Treatment, and Beyond”, yang digelar di Hotel Emersia, Jumat (30/5).

Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ilmiah ini sejalan dengan komitmen Lampung dalam mempercepat transformasi sektor kesehatan. Menurutnya, sistem kesehatan yang kuat merupakan fondasi untuk mencetak SDM unggul dan produktif, yang menjadi kunci menuju Indonesia Emas 2045.

“Simposium ini bukan sekadar forum ilmiah, tetapi langkah strategis dalam menyatukan para ahli untuk mendorong inovasi, memperluas layanan, dan menghadirkan kebijakan berbasis riset yang menjawab kebutuhan riil masyarakat,” ujar Jihan.

Thalasemia: Tantangan Strategis Kesehatan Publik

Salah satu sorotan penting dalam pidato Wakil Gubernur adalah tingginya beban penanganan thalasemia, penyakit genetik yang mendominasi kasus hemato-onkologi di Indonesia. Jihan mengungkapkan bahwa secara nasional, lebih dari Rp1 triliun dialokasikan setiap tahun untuk menangani penyakit ini.

“Di RSUD Abdul Moeloek saja, ada lebih dari 165 penderita thalasemia. Ini jadi alarm bagi kita bahwa pendekatan kuratif tak cukup. Kita perlu investasi besar di hulu—deteksi dini, edukasi carrier, dan intervensi preventif,” jelasnya.

Dari Data ke Kebijakan: Membangun Sistem Kesehatan Berbasis Riset
Menanggapi kompleksitas tantangan ini, Pemprov Lampung membuka peluang kolaborasi seluas-luasnya, termasuk dengan tenaga medis, akademisi, dan sektor swasta untuk menyusun kebijakan yang berorientasi pada solusi jangka panjang.

“Saya berharap simposium ini menghasilkan rekomendasi yang bisa langsung kami adopsi dalam bentuk kebijakan yang menyentuh masyarakat,” tegas Jihan.

BACA JUGA :  Studi Wisata SMA Xaverius Bandarlampung #Part 4 : Memandang Sunrise di Bromo, Jawa Timur

Langkah konkret pun mulai dijalankan, di antaranya pembangunan RSUD KH Muhammad Thohir di Pesisir Barat, hasil kerja sama dengan Kementerian Kesehatan, sebagai bagian dari pemerataan layanan kesehatan hingga wilayah pesisir dan terpencil.

Langkah Strategis: Kolaborasi dengan Lembaga Riset Nasional
Dalam upaya mendorong inovasi dan terapi modern, pada 9 Mei 2025 Pemprov Lampung juga menandatangani Nota Kesepahaman dengan RS SSCR (Stemcell and Cancer Research) di Semarang. Kolaborasi ini membuka peluang pembangunan laboratorium satelit terapi regeneratif di Lampung—yang akan memperkuat layanan stem cell, secretome, hingga penanganan kanker.

“Kami ingin Lampung bukan hanya sebagai pengguna teknologi kesehatan, tapi sebagai pusat pengembangannya,” ujar Wagub dengan optimis.

Lampung sebagai Hub Layanan Kesehatan Inovatif

Dengan berbagai inisiatif ini, Lampung tidak hanya membenahi sektor kesehatan dari sisi layanan dan fasilitas, tetapi juga dari aspek kebijakan, riset, dan teknologi. Visi besar pun dicanangkan: menjadikan Lampung sebagai pusat layanan kesehatan unggulan nasional, dengan pendekatan menyeluruh dari promotif, preventif, hingga kuratif.

“Lampung punya potensi besar. Jika semua pemangku kepentingan bersinergi—pemerintah, rumah sakit, akademisi, sektor swasta—kita bisa menjadi pionir dalam layanan kesehatan masa depan,” pungkas Jihan.

Simposium ini pun menandai babak baru dalam transformasi kesehatan di Lampung: dari wilayah layanan, menjadi wilayah solusi dan inovasi.***